Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Tanah retak memanjang, pepohonan tumbang, dan dari celah rekahan menyembur kobaran api raksasa yang menjulang tinggi ke angkasa.
Api itu bergulung-gulung bagaikan naga merah. Suaranya menggelegar hingga bukit-bukit berguncang.
"Baladewa...!" serunya.
Baladewa tersentak.
"Siapa engkau?"
Kobaran api semakin membesar.
"Aku adalah suara bumi yang telah kau lukai! Karena kesombonganmu menghantam tanah tanpa alasan, maka dengarkan kutukanku!"
Baladewa menggenggam Nenggala erat-erat, tetapi wajahnya mulai pucat.
Baca Juga: Jual MinyaKita di Atas HET, Pedagang Terancam Blacklist Permanen oleh Bulog
Api itu kembali berseru, "Kelak engkau akan mati dihimpit bumi yang hari ini kau lukai. Kesaktianmu tidak akan sanggup menghindarkanmu dari takdir itu!"
Mendengar suara tersebut, lutut Baladewa bergetar. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut.
Kobaran api perlahan padam dan menghilang bersama kepulan asap. Tak seorang pun mengetahui bahwa api itu sesungguhnya adalah penjelmaan Sri Kresna.
Baladewa masih berdiri mematung dengan wajah muram. Tak lama kemudian, Sri Kresna datang menghampiri bersama Werkudara.
"Kakangmas, apakah yang baru saja terjadi?" tanya Sri Kresna seolah tidak mengetahui apa pun.
Baladewa menggeleng perlahan.
"Yayi Prabu, aku sendiri tidak mengerti. Ketika Nenggala menghantam bumi, muncul kobaran api yang menyumpahiku. Hatiku menjadi sangat gelisah."
Sri Kresna berpura-pura terkejut.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani