Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Jejak Pandawa di Ujung Masa Hukuman 1: Duryudana Mulai Kehilangan Akal

Ki Damar • Jumat, 10 Juli 2026 | 18:16 WIB
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Menjelang berakhirnya masa hukuman Pandawa selama tiga belas tahun, Keraton Astina justru diselimuti kegelisahan.

Selama 12 tahun, Pandawa menjalani pembuangan di hutan. Setahun terakhir, mereka harus hidup dalam penyamaran di sebuah negeri tanpa seorang pun mengetahui jati diri mereka.

Sesuai perjanjian, apabila penyamaran itu terbongkar sebelum genap satu tahun, mereka wajib mengulang masa hukuman dari awal.

Kini, hanya tersisa beberapa hari. Namun, tak satu pun mata-mata Kurawa berhasil menemukan jejak mereka.

Di singgasana, Prabu Duryudana mondar-mandir dengan wajah kusut. Tangannya mengepal erat, sementara benaknya dipenuhi kecemasan.

"Mustahil!" bentaknya sambil menghantam sandaran singgasana.

"Ribuan mata-mata telah kukirim ke seluruh negeri. Mengapa tidak satu pun berhasil menemukan mereka? Jangan-jangan Pandawa telah melarikan diri ke negeri para dewa!"

Patih Sengkuni berusaha menenangkan keponakannya.

Baca Juga: Berhasil Dongkrak Pendapatan, Pertanian Melon Pemerintah Desa Pelang Kidul Ngawi Banjir Apresiasi

"Prabu Anom, bersabarlah. Kita masih memiliki beberapa hari. Selama masa penyamaran mereka belum berakhir, kesempatan kita masih terbuka."

Namun, Duryudana menggeleng keras.

"Yang kutakutkan bukan mereka lolos. Yang kutakutkan adalah isi perjanjian itu. Bila Pandawa berhasil menyelesaikan masa hukumannya, separuh Kerajaan Astina harus kuserahkan kepada Puntadewa. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"

Ucapannya menggema di seluruh pendapa, membuat suasana semakin mencekam.

Sejak tadi Resi Bisma hanya terdiam. Sesepuh Wangsa Kuru itu akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya teduh, sementara rambutnya yang telah memutih semakin memancarkan wibawa seorang mahaguru.

"Duryudana."

Suaranya tenang, tetapi seketika membuat seluruh ruangan terdiam.

"Bila engkau ingin mencari Pandawa, jangan mencarinya dengan mata. Carilah mereka dengan hati."

Duryudana menoleh dengan tatapan sinis.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #Pandawa #wayang