Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Jejak Pandawa di Ujung Masa Hukuman 2: Wejangan Resi Bisma

Ki Damar • Jumat, 10 Juli 2026 | 18:52 WIB
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Eyang Resi, apa maksud wejangan itu?" tanya Duryudana. "Apakah Pandawa telah berubah menjadi bayangan sehingga hanya bisa dicari dengan hati?"

Bisma tersenyum tipis.

"Seorang pemimpin tidak selalu meninggalkan jejak kaki. Ia meninggalkan jejak dalam kehidupan rakyatnya."

Seluruh pendapa terdiam. Tak seorang pun menyela.

Bisma melangkah perlahan ke tengah pendapa sebelum kembali berbicara.

"Bila engkau memasuki sebuah negeri dan mendapati rakyatnya hidup jujur, tidak saling menipu, taat beribadah, serta rajanya lebih mencintai kebenaran daripada kepentingan dirinya sendiri, jangan ragu... di sanalah Puntadewa berada."

Duryudana menyilangkan tangan di dada.

"Itu hanya omong kosong."

Baca Juga: Jejak Pandawa di Ujung Masa Hukuman 1: Duryudana Mulai Kehilangan Akal

Bisma tetap melanjutkan, seolah tidak mendengar sanggahan itu.

"Bila engkau melihat hukum ditegakkan tanpa membedakan kaya maupun miskin, rakyat berani menyuarakan kebenaran tanpa takut kepada penguasa, dan kezaliman tidak mendapat tempat, di situlah Werkudara berada."

Duryudana mulai menggeleng dengan wajah kesal.

"Lalu?"

"Bila engkau mendapati masyarakat yang santun, menghormati orang tua, mencintai budaya, gemar belajar, serta menjunjung tinggi tata krama, ketahuilah Arjuna sedang berada di sana."

Suasana pendapa semakin sunyi. Semua orang menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulut Resi Bisma.

"Bila engkau melihat sawah menghijau, hasil panen melimpah, ternak berkembang biak dengan sehat, para petani hidup makmur, dan alam dipelihara dengan penuh kasih, jangan salah... Nakula dan Sadewa sedang mengabdikan diri di negeri itu."

Duryudana justru tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema memenuhi pendapa.

"Hahaha... Eyang, sejak dahulu Eyang memang pandai memuji Pandawa."

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #Pandawa #wayang