Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Jejak Pandawa di Ujung Masa Hukuman 3: Pendapa Astina Mendadak Sunyi

Ki Damar • Jumat, 10 Juli 2026 | 19:37 WIB
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Bisma memandang cucunya tanpa sedikit pun mengubah raut wajahnya.

"Aku tidak sedang memuji," ucapnya tenang. "Aku sedang menunjukkan bagaimana seorang kesatria dikenang."

Jawaban itu membuat Duryudana semakin geram.

"Tidak!" sergahnya tajam. "Yang menentukan kebesaran seorang raja adalah kekuatan pasukan dan luas wilayahnya, bukan cerita tentang rakyat yang hidup bahagia!"

Bisma hanya menggeleng perlahan.

"Itulah sebabnya engkau tidak pernah mengerti mengapa rakyat lebih mencintai Pandawa."

Kalimat itu seketika membuat wajah Duryudana memerah.

"Apa maksud Eyang?" bentaknya.

Bisma menatap lurus ke arah singgasana.

"Engkau terlalu sibuk mencari tubuh Pandawa, tetapi melupakan satu hal. Jiwa mereka telah lebih dahulu hidup di tengah rakyat."

"Itu fitnah!" bentak Duryudana.

"Bukan," jawab Bisma tegas.

"Itu keberpihakan!"

"Juga bukan."

"Lalu apa?"

"Itu kenyataan."

Sesaat, pendapa berubah hening. Para menteri saling berpandangan, tetapi tak seorang pun berani menyela.

Dengan langkah berat, Duryudana turun dari singgasananya. Tatapannya tak lepas dari wajah sang sesepuh.

"Sejak kecil Eyang selalu membela mereka!"

"Aku membela kebenaran."

"Eyang lebih mencintai anak-anak Pandu daripada cucu sendiri!"

Senyum tipis bercampur getir menghiasi wajah Bisma.

"Aku mencintai semua keturunanku. Namun kasih sayang tidak boleh membutakan keadilan."

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #Pandawa #wayang