Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Jejak Pandawa di Ujung Masa Hukuman 5: Hasutan Sengkuni Bakar Amarah Sang Raja

Ki Damar • Jumat, 10 Juli 2026 | 20:42 WIB
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Keluar! Bila Eyang lebih mencintai Pandawa, pergilah menyusul mereka! Astina tidak membutuhkan penasihat yang hatinya telah berpaling!"

Bentakan Duryudana membuat Balairung Astina mendadak sunyi. Tak seorang pun berani bersuara.

Bisma memejamkan mata sejenak. Tak tampak kemarahan di wajah sang sesepuh. Yang tersisa hanyalah kesedihan seorang kakek yang menyaksikan cucunya dikuasai angkara murka.

Dengan kepala tetap tegak, ia melangkah meninggalkan balairung.

Sesaat sebelum melewati pintu istana, Bisma berhenti. Tanpa menoleh, ia menyampaikan pesan terakhirnya.

"Duryudana, ingatlah. Seorang pemimpin dapat menguasai istana dengan kekuatan, tetapi hanya dapat menguasai hati rakyat dengan kebajikan. Bila engkau memilih mempertahankan takhta dengan kebencian, kelak takhta itulah yang akan menjadi sebab kejatuhanmu sendiri."

Usai mengucapkan kalimat itu, Resi Bisma kembali melangkah meninggalkan balairung.

Duryudana tetap berdiri di tempatnya. Dadanya naik turun menahan amarah. Namun, entah mengapa, pesan sang eyang terus terngiang di dalam benaknya.

Di luar istana, angin bertiup perlahan, seakan membawa firasat bahwa Kerajaan Astina sedang menuju perubahan besar. Takdir yang telah disepakati tiga belas tahun silam kini tinggal menunggu waktunya menjadi kenyataan.

Baca Juga: Pemkab Magetan Matangkan Rencana Perampingan OPD, Fokus Efisiensi Birokrasi

Duryudana masih memandangi pintu balairung tempat Bisma menghilang dari pandangannya. Wajahnya menyimpan amarah sekaligus kegelisahan.

Melihat keadaan itu, Sengkuni melangkah mendekat dengan senyum tipis.

"Prabu Anom, janganlah resah oleh ocehan seorang tua. Sejak dahulu Begawan Bisma memang tinggal di Astina, tetapi hatinya selalu berada di pihak Pandawa. Beliau tidak pernah benar-benar menghendaki Paduka berjaya."

Duryudana menoleh kepada pamannya.

"Jadi benar dugaanku, Paman? Eyang Bisma memang selalu membela Pandawa?"

Sengkuni mengangguk perlahan.

"Paduka telah melihatnya sendiri. Setiap kali berbicara, beliau selalu mengagungkan kebajikan Pandawa, seolah-olah hanya mereka yang pantas menjadi pemimpin. Sementara Paduka selalu dipandang dengan penuh kecurigaan."

Sengkuni kemudian merendahkan suaranya.

"Hati-hatilah, Prabu. Kata-kata Begawan Bisma lebih berbahaya daripada tombak. Bila Paduka terus mendengarkannya, keraguan akan tumbuh. Padahal seorang raja tidak boleh hidup dalam keraguan. Pandawa bukan saudara yang patut dikasihani, melainkan lawan yang sedang menunggu kesempatan merebut Astina."

Hasutan itu kembali meracuni hati Duryudana. Kegelisahan yang sempat muncul perlahan berubah menjadi kebencian.

Ia mengepalkan tangan, lalu berkata dengan suara mantap,

"Benar, Paman. Aku tidak akan lagi terpengaruh oleh nasihat Eyang Bisma. Sebelum masa hukuman mereka berakhir, Pandawa harus ditemukan. Aku bersumpah, Astina tidak akan pernah kuberikan kepada mereka, walau hanya setapak tanah sekalipun."

Sengkuni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum puas.

Sekali lagi, racun kebencian berhasil ia tanamkan di hati keponakannya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
cerpen Pandawa wayang