Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Menjelang berakhirnya masa penyamaran Pandawa, Prabu Susarma, Raja Trigarta, datang menghadap Prabu Duryudana di Astina. Setelah mempersembahkan sembah hormat, raut wajahnya menunjukkan dendam yang telah lama dipendam.
"Prabu Anom," ujarnya mantap, "izinkan Trigarta melancarkan perang ke Negeri Wirata. Selain negeri itu kaya dan kuat, hamba juga memiliki urusan yang belum terselesaikan dengan Prabu Matsapati."
Duryudana mengangkat alis.
"Urusan apakah itu?"
Susarma mengepalkan tangan.
"Beberapa tahun silam, hamba melamar putri bungsunya, Dewi Utari. Namun lamaranku ditolak mentah-mentah. Aku dipermalukan di hadapan para raja. Kini saatnya Matsapati membayar penghinaan itu."
Sengkuni tersenyum tipis penuh kelicikan.
"Menarik. Dendam pribadi sering kali lebih tajam daripada urusan politik."
Susarma melanjutkan penjelasannya.
"Selain itu, menurut laporan para mata-mata, Wirata adalah negeri yang makmur, tenteram, dan rakyatnya hidup berkecukupan. Sangat mungkin Pandawa bersembunyi di sana. Jika kita menyerbu sekarang, kita akan memperoleh dua keuntungan sekaligus: menaklukkan Wirata dan mungkin menemukan Pandawa."
Mata Duryudana berbinar mendengar usul itu.
"Bila Pandawa ditemukan sebelum genap tiga belas tahun, mereka wajib mengulang masa hukuman. Baik! Astina akan membantu Trigarta. Pasukanmu menyerang dari depan, sedangkan pasukanku menggempur dari belakang. Kita kepung Wirata hingga tak memiliki jalan untuk meloloskan diri."
Tak lama kemudian, kabar penyerangan itu mengguncang Keraton Wirata. Prabu Matsapati segera mengumpulkan seluruh keluarga kerajaan beserta para pembesar istana. Wajah sang raja tampak muram menandakan situasi yang benar-benar genting.
"Anak-anakku... negeri kita sedang menghadapi badai."
Mendengar titah ayahandanya, Raden Seta segera melangkah maju.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani