Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Amarah Susarma 3: Balawa Muncul Mengguncang Medan Perang

Ki Damar • Rabu, 15 Juli 2026 | 18:53 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Prabu Susarma. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Prabu Susarma. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Diam! Hari ini aku akan membawa Utari sebagai rampasan perang!"

Prabu Matsapati melangkah maju dengan tatapan tak gentar.

"Selama aku masih bernapas, jangan berharap dapat menyentuh putriku!"

Pertempuran pun berkobar semakin dahsyat. Pedang dan gada saling beradu, memercikkan bunga-bunga api di tengah medan laga. Namun usia Matsapati yang telah senja membuat tenaganya perlahan menyusut. Sebuah hantaman gada dari Susarma menghantam keras hingga pedang sang raja terlepas dari genggamannya. Dalam sekejap, pasukan Trigarta berhasil meringkus Prabu Matsapati.

Susarma melangkah mendekat, lalu berdiri angkuh di hadapan raja Wirata yang telah tertawan.

"Di mana kesombonganmu sekarang?"

Matsapati menatapnya tajam tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar.

"Bunuhlah aku jika itu membuatmu puas."

Susarma tertawa sinis.

"Tidak. Aku ingin engkau menyaksikan sendiri putrimu menjadi milikku dan Negeri Wirata tunduk di bawah kekuasaan Trigarta."

Matsapati meludah ke tanah.

"Kesatria sejati tidak pernah memaksa perempuan untuk mencintainya."

Ucapan itu membakar amarah Susarma. Dengan wajah memerah, ia mengangkat gadanya tinggi-tinggi, bersiap mengakhiri hidup Prabu Matsapati.

Tiba-tiba, sebuah suara menggelegar mengguncang medan perang.

"Lepaskan rajaku!"

Seluruh prajurit serempak menoleh ke arah datangnya suara. Dari balik barisan pasukan Wirata, muncul seorang lelaki bertubuh besar sambil memanggul kapak penjagal. Dialah Balawa, tukang jagal istana Wirata yang selama ini dikenal pendiam, tetapi menyimpan tenaga yang luar biasa.

Melihat kemunculannya, Susarma justru tertawa meremehkan.

"Hahaha! Apa Wirata sudah kehabisan kesatria? Kini seorang tukang jagal dikirim untuk melawanku?"

Balawa tidak menjawab sepatah kata pun. Dengan satu ayunan kapaknya, belasan prajurit Trigarta terpental ke segala arah. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar, sementara barisan musuh mulai goyah oleh kekuatan yang tak pernah mereka bayangkan.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
cerpen Pandawa wayang Duryudana