Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Prabu Matsapati yang masih terbelenggu berseru lantang,
"Balawa! Jangan pedulikan aku! Selamatkan negeri ini!"
Balawa mengangguk pelan.
"Selama hamba masih berdiri, tidak seorang pun boleh mempermalukan Paduka."
Susarma mulai mengamati setiap gerakan Balawa. Semakin lama, wajahnya berubah. Keraguan mulai menyelinap di balik sorot matanya.
"Pukulan itu..."
Balawa menghantam tanah dengan kapaknya hingga pasukan Trigarta berhamburan.
"Tenaga sebesar itu..."
Tanpa sadar, Susarma melangkah mundur.
"Aku pernah melihatnya..."
Balawa kembali menerjang dengan kekuatan yang membuat lawan-lawannya terpental.
"Tidak mungkin... Hanya ada satu orang yang memiliki tenaga seperti itu..."
Dengan mata membelalak, Susarma menunjuk Balawa.
"Engkau... bukan tukang jagal...."
Balawa tetap membisu.
Susarma berteriak lantang,
"Engkau adalah Werku—"
Belum sempat nama itu terucap sempurna, Balawa melesat secepat kilat. Kapak besarnya menghantam dada Susarma dengan kekuatan dahsyat hingga tubuh Raja Trigarta terpental dan menghantam batu besar. Darah mengucur dari mulutnya. Sesaat kemudian, Susarma mengembuskan napas terakhir tanpa sempat membuka rahasia penyamaran Pandawa.
Balawa segera memutus tali yang membelenggu Prabu Matsapati.
Sang Raja memandangnya dengan tatapan penuh keheranan.
"Balawa... siapakah engkau sebenarnya?"
Balawa menundukkan kepala dengan hormat.
"Hamba hanyalah abdi Wirata yang menjalankan kewajiban melindungi rajanya."
Prabu Matsapati tidak mengajukan pertanyaan lagi. Namun jauh di lubuk hatinya, ia yakin lelaki yang berdiri di hadapannya bukanlah seorang tukang jagal biasa. Ada rahasia besar yang masih disembunyikan Balawa, dan waktu akan segera mengungkap jati dirinya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani