Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Sementara di garis depan pertempuran, Prabu Susarma gugur di tangan Balawa dan Prabu Matsapati berhasil diselamatkan.
Namun, keadaan di bagian belakang Kerajaan Wirata tak kalah genting.
Debu perang membubung tinggi, sementara panji-panji Astina mulai tampak mengepung gerbang belakang kerajaan. Pasukan Kurawa yang dipimpin para mahasenapati terus merangsek maju.
Masih berada di medan laga, Prabu Matsapati berbisik penuh kecemasan.
"Ya Hyang Wenang... semoga Utara berhasil menyelamatkan adiknya. Jangan sampai Dewi Utari jatuh ke tangan musuh."
Sebelum berangkat ke medan perang, Matsapati telah berpesan kepada putranya.
"Utara, dengarkan perintah Rama. Jika pasukan Astina berhasil memasuki Wirata, jangan utamakan peperangan. Selamatkan adikmu, Dewi Utari. Dialah putri terakhir Wirata. Jangan biarkan kehormatan kerajaan diinjak musuh."
Utara segera menyembah.
Baca Juga: Mengenal Black Hawk Madiun, Komunitas Motor Tua Amerika dan Eropa yang Gemar Touring Malam
"Dawuh, Rama Prabu. Hamba akan membawa Diajeng Utari ke tempat yang aman."
Di dalam keputren, Dewi Utari sedang ditemani Wrehatnala, seorang wandu yang selama ini menjadi guru tari para putri istana.
Tak seorang pun mengetahui bahwa di balik pakaian dan sikapnya yang lembut, Wrehatnala sesungguhnya adalah Raden Arjuna yang tengah menjalani penyamaran.
Rahasia itu dijaganya rapat-rapat hingga masa hukuman Pandawa berakhir.
Tiba-tiba pintu keputren terbuka.
"Utari!" seru Raden Utara dengan napas terengah-engah.
Dewi Utari berdiri terkejut.
"Kakangmas, apa yang terjadi?"
Utara menjawab tergesa-gesa.
"Pasukan Astina telah mengepung negeri ini. Kita harus pergi sekarang juga."
Namun, Dewi Utari justru menggeleng.
"Tidak!"
Utara terdiam sejenak.
"Kakangmas seorang kesatria. Mengapa justru datang untuk melarikan diri?"
Utara menarik napas panjang. "Ini bukan saatnya bersikap keras kepala. Musuh yang datang bukan prajurit biasa."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani