Cerpen Wayang Wrehatnala Tantang Utara 1: Teguran yang Mengubah Putra Wirata

Ki Damar • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 15:57 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Kedi Wrehatnala.
Ilustrasi tokoh wayang Kedi Wrehatnala.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Raden Utara terus berlari menerobos lebatnya hutan. Napasnya memburu, pakaiannya tersangkut ranting-ranting, tetapi ia tak memedulikannya. Yang memenuhi benaknya hanya satu: menjauh sejauh-jauhnya dari medan perang.

Di belakangnya, Wrehatnala terus mengejar dengan langkah yang jauh lebih ringan. Meski berpenampilan sebagai seorang wandu, gerak tubuhnya begitu lincah. Tak lama kemudian, ia berhasil menyusul putra Raja Wirata itu.

"Raden Utara... berhentilah!" seru Wrehatnala.

Namun Utara justru mempercepat langkahnya.

"Jangan ikuti aku! Aku tidak ingin mati!"

Melihat Utara kian dikuasai ketakutan, Wrehatnala mengembuskan napas panjang. Seketika ia mengerahkan sisa tenaganya, melompat ke depan, lalu menjambak rambut Raden Utara hingga sang pangeran terhenti dan jatuh terduduk di atas rerumputan.

Raden Utara segera bangkit dengan wajah merah padam. Tangannya memegang rambut yang masih terasa nyeri.

"Wrehatnala! Lancang sekali engkau!" bentaknya. "Berani-beraninya seorang wandu menjambak rambut putra Raja Wirata! Tahukah engkau, kepalamu dapat dipenggal karena penghinaan ini?"

Baca Juga: Bukan Cuma di Buenos Aires, Kericuhan Suporter Argentina Juga Pecah di Rio de Janeiro

Wrehatnala tetap berdiri tenang tanpa sedikit pun gentar.

"Hamba tahu, Raden."

"Kalau tahu, mengapa masih berani melakukannya?"

Wrehatnala menatap mata Utara dengan sorot tajam.

"Karena yang hamba tarik bukan rambut Paduka."

Utara mengernyit.

"Lalu apa?"

"Yang hamba tarik adalah jiwa pengecut yang sedang bersemayam di dalam diri Paduka."

Ucapan itu membuat Utara terdiam. Namun sesaat kemudian, kemarahannya kembali memuncak.

"Omong kosong! Rambutku yang kau jambak, bukan jiwaku!"

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
raden utara wrehatnala kurawa cerpen wayang