Cerpen Wayang Wrehatnala Tantang Raden Utara 3: Satu Permintaan Tak Terduga

Ki Damar • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 17:51 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Kedi Wrehatnala.
Ilustrasi tokoh wayang Kedi Wrehatnala.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Apa yang ingin Paduka katakan?"

"Aku benar-benar tidak sanggup melawan mereka."

Air mata Raden Utara mulai menetes.

"Aku tidak sanggup menghadapi Astina."

Hutan seketika menjadi sunyi.

Wrehatnala tidak menertawakannya, tidak pula mencelanya. Ia justru tersenyum penuh pengertian.

"Kejujuran Paduka hari ini lebih mulia daripada keberanian yang dipaksakan."

Utara menatapnya dengan heran.

Baca Juga: Kisah AKBP Andin Wisnu Sudibyo, dari Kapolsek Pelosok hingga Pimpin Polres Ponorogo

Wrehatnala kemudian berkata perlahan. "Bila demikian... izinkan hamba menjadi senopati."

Utara terkejut.

"Apa?"

"Hamba yang akan menghadapi pasukan Astina."

Dengan mantap, Wrehatnala memegang pundak Raden Utara.

"Lalu aku?" tanya sang putra raja sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Paduka menjadi kusir."

Utara spontan tertawa.

"Hahaha... Wrehatnala, apakah engkau kehilangan akal?"

"Kenapa Paduka berkata demikian?" tanya guru tari Wirata itu.

Baca Juga: Rendahkan Wartawann, Hotman Paris Didesak Minta Maaf oleh SWSI

"Karena tidak pernah ada seorang wandu menjadi senopati perang!"

Wrehatnala tersenyum tipis.

"Apakah kemenangan ditentukan oleh pakaian seseorang?"

"Tidak."

"Oleh wajahnya?"

"Tidak."

"Oleh suaranya?"

"Tidak juga."

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
raden utara wrehatnala kurawa Pandawa arjuna