Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Tunggu dahulu, Raden."
Utara berhenti.
"Ada apa lagi?"
Wrehatnala memandang ke arah hutan yang membentang di hadapan mereka.
"Sebelum kembali ke medan perang, ada satu tempat yang harus kita datangi."
"Untuk apa?"
"Di sanalah tersimpan sebuah rahasia yang selama ini tidak boleh diketahui siapa pun."
Utara mengernyit.
"Rahasia apa?"
Baca Juga: Kemarau Mulai Berdampak, 18 Kebakaran Terjadi di Ponorogo dalam Setengah Bulan
Wrehatnala tersenyum tipis.
"Bila Paduka ingin melihat seorang wandu menjadi senopati, ikutlah hamba. Setelah melihat rahasia itu, Paduka akan mengerti mengapa hamba begitu yakin menghadapi seluruh balatentara Astina."
Dengan rasa ingin tahu yang semakin besar, Raden Utara mengikuti langkah Wrehatnala memasuki hutan yang kian lebat.
Di balik rimbunnya pepohonan itulah tersimpan sebuah rahasia besar yang hampir tiga belas tahun disembunyikan. Sebuah rahasia yang akan membuka lembaran baru dalam sejarah Bharata.
Sepanjang perjalanan, Utara beberapa kali melirik ke arah Wrehatnala.
Semakin lama ia mengamatinya, semakin besar pula keheranan yang memenuhi benaknya.
"Aneh... Seorang wandu berbicara tentang keberanian seperti seorang mahaguru. Tatapan matanya teduh, tetapi penuh wibawa. Langkahnya ringan, namun mantap seperti kesatria yang telah berkali-kali menapaki medan perang. Sebenarnya... siapakah Wrehatnala ini?"
Akhirnya Utara memberanikan diri bertanya.
"Wrehatnala, terus terang hatiku dipenuhi tanda tanya. Engkau bukan orang biasa. Cara bicaramu, keberanianmu, bahkan ketenanganmu saat menghadapi pasukan Astina jauh melampaui seorang guru tari."
Wrehatnala hanya tersenyum kecil tanpa menghentikan langkahnya.
Baca Juga: Rahasia Anak Cepat Bisa Sepeda Roda Dua, Ternyata Ini Metode Paling Efektif
"Raden, ada kalanya seseorang harus menyembunyikan jati dirinya demi menegakkan dharma. Hari ini Paduka belum perlu mengetahui siapa hamba sebenarnya. Percayalah, ketika waktunya tiba, semua tabir akan terbuka dengan sendirinya."
Jawaban itu membuat rasa penasaran Utara semakin memuncak. Ia memandang sosok di depannya dengan penuh hormat.
Di dalam hatinya ia berbisik,
"Apa pun jati dirinya, orang yang berjalan di hadapanku ini bukanlah seorang wandu biasa. Ada rahasia besar yang dipikulnya, dan sebentar lagi aku akan menjadi saksi terbukanya rahasia itu."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani