Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Utara menarik napas panjang.
"Baiklah. Sekali ini aku menurut."
Dengan cekatan, ia memanjat pohon randu alas hingga berhasil menurunkan bungkusan putih itu.
Begitu kain putih dibuka, cahaya keemasan langsung memancar. Raden Utara terpaku.
Di dalamnya tersusun pusaka-pusaka agung.
Panah Ardadhedali.
Panah Sarotama.
Keris Pulanggeni.
Dan di bagian paling tengah terbaring Panah Pasupati, pusaka para dewa yang hanya dapat digunakan oleh kesatria pilihan.
Utara membelalakkan mata.
"Mustahil..."
Ia menunjuk satu per satu pusaka itu.
"Aku mengenal semuanya."
Tatapannya beralih kepada Wrehatnala.
"Itu pusaka milik cucuku, Raden Arjuna."
Suasana mendadak sunyi.
Utara kembali bertanya dengan nada curiga.
"Wrehatnala... dari mana engkau memperoleh semua pusaka ini?"
Baca Juga: Perluas Jejaring Bisnis, Jawa Pos Radar Madiun dan Bank Mandiri Bahas Peluang Kolaborasi
Wrehatnala menjawab singkat.
"Hamba tidak mencurinya."
"Lalu bagaimana pusaka-pusaka itu bisa berada di tanganmu?"
Wrehatnala hanya tersenyum.
"Sebentar lagi Gusti akan mengetahui jawabannya."
Perlahan, Wrehatnala mengangkat Panah Pasupati.
Seketika cahaya putih memancar dari pusaka itu.
Angin bertiup semakin kencang. Daun-daun randu beterbangan. Sinar Pasupati menyelimuti wajah Wrehatnala.
Riasan yang selama ini menutupi wajahnya seolah memudar diterpa cahaya pusaka.
Raden Utara memandang tanpa berkedip.
Semakin lama, wajah itu terasa semakin dikenalnya.
Tubuhnya bergetar. "Mustahil..."
Air matanya mulai menetes.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani