Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
"Gusti, cukup pegang kendali kereta. Biarkan cucumu yang menghadapi mereka."
Utara mengangguk mantap.
"Baik. Hari ini aku akan menjadi kusirmu. Apa pun perintahmu akan kuturuti. Aku yakin, selama Arjuna berdiri di atas Garuda Yaksa, kemenangan masih berpihak kepada Wirata."
Kereta Garuda Yaksa kembali melaju meninggalkan pohon randu alas. Kali ini, Raden Utara menggenggam erat tali kekang, sedangkan Arjuna berdiri tegak di atas kereta dengan Gandewa di tangannya.
Begitu kereta keluar dari rimbunnya hutan, para prajurit Kurawa yang telah diperintahkan Patih Sengkuni segera bersiaga. Dursasana menunjuk ke arah mereka sambil berseru,
"Paman! Kereta Garuda Yaksa keluar dari hutan!"
Sengkuni mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
"Bagus! Hujani mereka dengan panah! Hari ini jangan biarkan seorang pun lolos!"
Baca Juga: Jadwal Lengkap SEA V Cup 2026 Putra Leg 2: Luvi Febrian Jadi Senjata Balaskan Dendam
Ribuan prajurit Astina serentak menarik busur. Langit seketika menghitam oleh hujan anak panah yang meluncur deras ke arah Garuda Yaksa.
Tak seorang pun menyadari bahwa kesatria yang kini berdiri di atas kereta pusaka Wirata bukan lagi Wrehatnala sang wandu, melainkan Arjuna, pemanah agung yang selama ini mereka cari.
Namun, Arjuna tetap berdiri tenang. Dengan Gandewa yang baru diambil dari bungkusan pusaka, ia mengayunkannya membentuk pusaran angin.
Trang... Trang... Trang...!
Anak-anak panah Kurawa terpental berhamburan. Sebagiannya patah di udara, sementara yang lain berbalik menghujani tanah. Tak satu pun mampu menyentuh Kereta Garuda Yaksa.
Raden Utara yang menggenggam tali kekang hanya mampu menatap takjub menyaksikan kesaktian senopatinya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani