Cerpen Wayang Rahasia Randu Alas Bagian 5 Habis: Sengkuni Mulai Curiga kepada Wrehatnala

Ki Damar • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 19:57 WIB
Ilustrasi lakon wayang tentang persembunyian Pandawa dari Kurawa. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi lakon wayang tentang persembunyian Pandawa dari Kurawa. (RADAR MADIUN)

Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Pemandangan itu membuat wajah Patih Sengkuni berubah tegang. Senyumnya perlahan menghilang.

"Mustahil..." gumamnya lirih. "Yang berdiri di atas Garuda Yaksa itu bukan Raden Utara."

Raja Awangga, Narapati Basukarna, ikut menyipitkan mata memperhatikan sosok berpakaian wandu itu.

"Benar, Patih. Putra Wirata hanya menjadi kusir. Justru Wrehatnala yang berdiri sebagai senopati. Apakah Wirata sudah sedemikian putus asa hingga menyerahkan peperangan kepada seorang wandu?"

Dursasana tertawa mengejek. Namun, tawa itu tidak diikuti Sengkuni. Hatinya justru dipenuhi firasat buruk yang sulit dijelaskan.

Basukarna tersenyum tipis, tetapi sorot matanya memancarkan rasa tersinggung.

"Ini penghinaan bagiku. Seorang Raja Awangga yang termasyhur justru disambut oleh seorang wandu. Seolah-olah aku tidak pantas dilawan oleh kesatria sejati."

Tanpa menunggu perintah siapa pun, ia mengibaskan tali kekang kudanya. Kereta perang Awangga meluncur kencang meninggalkan barisan Kurawa menuju Garuda Yaksa.

Baca Juga: Perluas Jejaring Bisnis, Jawa Pos Radar Madiun dan Bank Mandiri Bahas Peluang Kolaborasi

Dari kejauhan, ia berseru lantang,

"Hai, Wrehatnala! Jika benar engkau menjadi senopati Wirata, majulah! Hari ini akan kubuktikan bahwa medan perang bukan tempat bagi seorang penari istana!"

Sementara itu, Wrehatnala hanya tersenyum tenang. Ia menunggu lawannya datang tanpa sedikit pun mengubah sikapnya.

Sebelum mengarahkan Garuda Yaksa menghadapi Raja Awangga, Wrehatnala menepuk pelan bahu Raden Utara.

"Gusti, arahkan kereta terlebih dahulu ke barisan paling depan, menuju kereta Resi Bisma."

Utara tampak heran.

"Mengapa justru mendekati musuh yang paling disegani?"

Wrehatnala tersenyum penuh hormat.

"Beliau bukan sekadar panglima Astina. Beliau adalah eyangku yang selama ini kuhormati. Seorang kesatria tidak boleh melupakan tata krama hanya karena berada di medan perang. Sebelum busur ini berbicara, izinkan cucu memberi sembah kepada eyangnya."

Raden Utara mengangguk mengerti. Ia segera membelokkan Garuda Yaksa menuju kereta Resi Bisma.

Dari kejauhan, sang mahasenapati tua mulai memusatkan pandangannya kepada sosok Wrehatnala. Entah mengapa, sosok itu terasa begitu akrab di dalam hatinya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
cerpen Pandawa arjuna wayang