Cerpen Sembah Panah Sang Murid Bagian 1: Penghormatan kepada Bisma dan Durna

Ki Damar • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 15:52 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Arjuna. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Arjuna. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Kereta Garuda Yaksa meluncur perlahan meninggalkan barisan Wirata. Anehnya, Wrehatnala sama sekali tidak mengarahkan kereta menuju Raja Awangga Narapati Basukarna yang sejak tadi telah menantangnya.

Sebaliknya, ia meminta Raden Utara membelokkan kereta ke arah dua kereta tua yang berdiri anggun di barisan paling depan pasukan Astina. Di sanalah berdiri dua mahaguru Bharata, Panembahan Bisma dan Begawan Durna.

Angin bertiup lembut, seolah ikut menahan napas menyaksikan peristiwa yang tak biasa itu.

Raden Utara memandang heran.

"Wrehatnala, bukankah Raja Awangga sedang menantimu? Mengapa engkau justru mendekati dua pandita perang itu?"

Wrehatnala tersenyum tenang.

"Gusti, sebelum perang dimulai, ada sembah yang wajib kusampaikan. Seorang cucu dan seorang murid tidak pantas mengawali peperangan tanpa menghaturkan hormat kepada orang-orang yang membesarkannya."

Ucapan itu membuat Raden Utara semakin bingung. Ia menatap wajah Wrehatnala yang tampak begitu teduh.

Baca Juga: Gandeng BTPN Syariah, SMKN 1 Geger Luncurkan Program Kelas Industri

Tak sedikit pun kebencian terpancar dari sorot matanya, meski di hadapannya berdiri orang-orang yang kelak harus dihadapinya dalam pertempuran.

Perlahan, Wrehatnala mengambil sebatang anak panah. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu membatin,

"Eyang Panembahan Bisma... Guru Durna... hari ini cucu dan muridmu harus berdiri di pihak dharma. Ampunilah bila setelah sembah ini, Gandewa harus berbicara kepada orang-orang yang dahulu mengajariku jalan kesatria."

"Twaaang...!"

Busur dilepaskan.

Anak panah pertama melesat cepat membelah angin. Belum sempat panah itu mencapai tujuannya, Wrehatnala kembali menarik busur dan melepaskan anak panah kedua.

Kedua panah itu meluncur begitu indah. Namun, sama sekali tidak mengarah ke tubuh Panembahan Bisma maupun Begawan Durna.

Seluruh prajurit Astina menahan napas.

Mereka mengira kedua sesepuh itu sedang diserang secara tiba-tiba oleh seorang wandu yang nekat.

Begawan Durna terkejut. Tangannya spontan meraih busur.

"Panembahan Bisma!"

"Dasar orang wandu tidak tahu diri! Beraninya langsung mengarahkan anak panah kepada kita, para ahli perang! Apakah dia tidak tahu siapa yang sedang dihadapinya?"

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
bisma Bharatayuda cerpen Durna arjuna