Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Durna mendengus marah.
"Belum pernah aku melihat seorang kesatria—bahkan bukan kesatria, hanya seorang guru tari—berani berlaku kurang ajar seperti ini!"
Namun di luar dugaan, Panembahan Bisma justru tertawa pelan.
"Hahaha..."
Tawanya bukan bernada mengejek, melainkan penuh haru.
Durna menoleh bingung.
"Mengapa Panembahan tertawa?"
Bisma mengusap janggut putihnya seraya tersenyum tipis.
"Durna... apakah matamu sudah mulai tua?"
Durna mengernyit.
"Tua bagaimana?"
"Cobalah perhatikan kembali. Apakah kedua panah itu benar-benar sedang menyerang kita?"
Durna pun mengamati lebih saksama.
Barulah ia menyadari bahwa kedua anak panah itu tidak menancap di kereta, apalagi mengenai tubuh mereka. Panah-panah itu justru tertancap sejajar di tanah, tepat di depan roda kereta Bisma dan Durna, dengan ujung mengarah menunduk ke bumi.
Durna tertawa kecil.
"Oh... rupanya bidikannya meleset. Dasar wandu. Baru menjadi senopati saja sudah tidak becus memanah."
Panembahan Bisma perlahan menggelengkan kepala.
"Bukan meleset, Durna. Panah itu sedang bersujud."
Baca Juga: Penelitian Ungkap Jerapah Punya Kemampuan Matematika Sederhana, Disebut Lebih Unggul dari Anjing
Durna terdiam.
"Bersujud?"
Mata Bisma mulai berkaca-kaca saat menatap kedua anak panah itu.
"Lihatlah. Bukankah bentuknya seperti seseorang yang sedang menghaturkan sembah? Itulah tata krama perang para kesatria zaman dahulu. Sebelum mengangkat senjata kepada orang yang dihormati, mereka terlebih dahulu memohon izin. Adab seperti itu kini hampir punah."
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Di tanah Bharata saat ini... hanya ada seorang kesatria yang masih memegang tata krama setinggi itu."
Wajah Durna mendadak pucat. Jantungnya berdegup semakin keras.
Ingatannya melayang kepada seorang murid yang paling dibanggakannya.
Bibirnya bergetar.
"Panembahan... jangan-jangan..."
Tatapannya tertuju lurus kepada sosok Wrehatnala.
"Berarti dia adalah... Arju—"
Belum sempat nama itu terucap, Bisma dengan sigap menutup mulut Durna.
"Sst...! Jangan kau ucapkan nama itu."
Suara Bisma terdengar lirih, tetapi tegas.
"Bila penyamarannya terbongkar sebelum waktunya, Pandawa harus mengulang masa hukuman dari awal. Jangan sampai karena lidahmu, dharma menjadi terluka."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani