Cerpen Sembah Panah Sang Murid Bagian 4: Bukan Guru Tari Biasa

Ki Damar • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 18:58 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Arjuna. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Arjuna. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Dari atas keretanya, Basukarna berseru lantang,

"Hai, Wrehatnala! Hari ini aku tidak peduli engkau wandu, guru tari, ataupun siapa pun dirimu! Bila Bisma dan Durna memilih mundur, aku tidak akan melakukan hal yang sama."

Tatapannya semakin tajam.

"Aku, Basukarna Raja Awangga, bersumpah akan memaksamu membuka jati dirimu di hadapan seluruh Bharata!"

Wrehatnala berdiri tenang di atas Garuda Yaksa. Senyumnya tipis, sorot matanya teduh. Sementara itu, Raden Utara menggenggam erat tali kekang kereta.

Perlahan, dua kereta agung itu saling mendekat, mengawali duel yang kelak dikenang sebagai salah satu pertempuran paling menggetarkan dalam kisah Bharatayudha.

Kereta Raja Awangga akhirnya berhenti tepat di hadapan Garuda Yaksa. Debu yang beterbangan mulai mengendap, memperlihatkan dua kesatria yang saling berhadapan.

Basukarna berdiri tegak sambil mengangkat busurnya. Sebaliknya, Wrehatnala tetap tenang, sementara Gandewa masih menyembunyikan kewibawaannya.

Basukarna menatap lurus ke wajah sang wandu.

Baca Juga: Liburan Berubah Mencekam, Pasangan Turis Ditikam di Depan Acropolis Yunani

"Hai, Wrehatnala! Sejak tadi aku melihat keanehan demi keanehan. Bisma dan Durna memberimu penghormatan. Gerakmu bukan gerak seorang guru tari, melainkan seorang mahasenapati."

Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada menekan,

"Katakan, siapa sebenarnya engkau?"

Wrehatnala hanya tersenyum tipis.

"Siapa hamba bukanlah perkara penting, Raja Awangga. Yang terpenting, hari ini kita sama-sama menjalankan kewajiban sebagai kesatria."

Basukarna menggeleng pelan.

"Tidak... aku harus mengetahui siapa orang yang berdiri di hadapanku."

Tanpa menunggu jawaban, ia segera menarik busurnya.

"Kalau begitu, biarlah anak panah yang membuka rahasiamu!"

Puluhan anak panah meluncur deras laksana hujan.

Namun, Wrehatnala bergerak begitu cepat. Sebagian anak panah dipatahkan di udara, sebagian lagi dibelokkan dengan busurnya, sementara sisanya ditembak jatuh dengan ketepatan yang nyaris mustahil.

Pertempuran singkat itu membuat mata Basukarna semakin membelalak.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
bharatayudha cerpen basukarna arjuna wayang