Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Basukarna mengenali setiap irama tarikan busur, setiap langkah kaki, dan setiap putaran tubuh lawannya.
Perlahan, senyum tipis merekah di bibir Raja Awangga.
"Aku mengenal gerakan itu... tidak mungkin aku keliru."
Ia lalu menurunkan busurnya perlahan. Pandangannya tetap tertuju kepada Wrehatnala.
Dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, Basukarna berbisik,
"Arjuna... jangan lagi kau sembunyikan dirimu dariku. Orang lain boleh tertipu oleh riasan wajahmu, tetapi aku tidak. Tidak ada pemanah di Bharata yang mampu bergerak seindah ini selain dirimu."
Wrehatnala tidak menjawab.
Ia hanya membalas dengan senyum yang nyaris tak terlihat.
Tatapan keduanya bertemu dalam keheningan. Keheningan yang berbicara jauh lebih dalam daripada ribuan kata.
Basukarna menarik napas panjang. Sorot matanya yang semula dipenuhi amarah kini berubah menjadi hangat.
"Syukurlah... ternyata engkau masih hidup, Adikku."
Suaranya bergetar menahan haru.
"Sudah lama aku menantikan hari ketika dapat kembali berhadapan denganmu."
Ia tersenyum tipis sebelum melanjutkan,
"Jangan khawatir, Arjuna. Rahasiamu akan tetap terkubur. Aku tidak akan menyebut namamu sedikit pun. Bila hari ini penyamaranmu kubongkar, masa hukuman Pandawa akan dimulai kembali dari awal. Itu bukan kemenangan yang kuinginkan."
Basukarna menggenggam busurnya dengan mantap.
"Aku ingin mengalahkan Arjuna yang berdiri sebagai dirinya sendiri, bukan Arjuna yang sedang terbelenggu oleh takdir penyamaran."
Sesaat kemudian, Basukarna mengangkat busurnya ke langit sebagai tanda penghormatan kepada lawan yang paling dihormatinya.
"Dengarkan baik-baik, Arjuna. Aku akan menyimpan rahasia ini hingga masa hukuman Pandawa benar-benar berakhir. Setelah itu... datanglah menemuiku di Padang Kurusetra."
Baca Juga: Jangan Tunggu Jatuh Korban, DPRD Ponorogo Minta Pemkab Segera Perbaiki Jalan Rusak
Tatapannya tetap teguh.
"Aku telah terlalu lama menantikan peperangan yang sesungguhnya denganmu, wahai Adikku."
Wrehatnala membalas dengan menundukkan kepala penuh hormat, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dua kesatria agung itu kemudian saling membelakangi, masing-masing membawa rahasia yang harus tetap terkubur.
Di tengah riuh genderang perang, tak seorang pun prajurit Astina menyadari bahwa baru saja terjadi sebuah pertemuan yang bukan dilandasi kebencian, melainkan rasa hormat, kasih sayang, dan persaudaraan.
Pertemuan itu menjadi saksi bahwa sebelum takdir mempertemukan mereka sebagai musuh di Bharatayudha, Arjuna dan Basukarna terlebih dahulu saling menghormati sebagai dua kesatria terbesar yang pernah dimiliki tanah Bharata.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani