Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Wrehatnala mengembangkan senyum tipis ketika kereta Raja Awangga perlahan berbalik meninggalkan medan laga. Kata-kata Basukarna masih terngiang di telinganya.
"Aku akan menunggumu di Bharatayudha, wahai adikku."
Arjuna menundukkan kepala dengan haru. Dalam hati ia berbisik, "Kakang Basukarna, semoga saat itu tiba kita dapat bertemu sebagai kesatria sejati, bukan sebagai saudara yang dipisahkan takdir."
Garuda Yaksa kembali melaju menuju jantung pasukan Astina. Di hadapannya telah berdiri Duryudana, Dursasana, Sengkuni, Citrasena, Wikarna, dan puluhan pangeran Kurawa yang siap menghadang.
Duryudana mengangkat gada sambil tertawa mengejek.
"Ha... ha... ha...! Wrehatnala! Seorang wandu berani menantang Raja Astina?"
Suaranya menggema di seluruh Kurusetra.
"Hari ini akan kubuktikan bahwa medan perang bukan panggung tari!"
Wrehatnala tetap tenang. Ia menatap Duryudana tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Prabu Duryudana, seorang kesatria tidak dinilai dari pakaiannya, melainkan dari keberanian menegakkan dharma."
Baca Juga: Wapres Gibran Unggah Video di IG, Dorong Pengesahan RUU Perampasan Aset untuk Miskinkan Koruptor
Kalimat itu membuat wajah Duryudana memerah.
"Masih sempat berkhotbah? Serang dia!"
Puluhan kereta Kurawa bergerak serentak. Hujan panah kembali memenuhi langit. Namun, kali ini Wrehatnala tidak lagi bertahan.
Busurnya bergerak begitu cepat hingga hanya tampak bayangannya.
Trang... trang... trang...!
Anak-anak panah Kurawa patah sebelum sempat menyentuh Garuda Yaksa.
Panah balasan Wrehatnala justru memutus tali busur para kesatria Astina, menjatuhkan mahkota mereka, bahkan merobohkan tiang-tiang panji tanpa melukai seorang pun.
Duryudana terbelalak.
"Tidak mungkin...!"
Tatapannya semakin tajam mengamati sosok Wrehatnala.
"Paman Sengkuni..." katanya lirih. "Bukankah tadi Eyang Bisma dan Begawan Durna memilih mundur darinya?"
Sengkuni mengangguk pelan.
"Benar."
"Lalu Raja Awangga juga membiarkannya pergi tanpa perlawanan."
"Benar."
Duryudana mengepalkan tangan.
"Sekarang, seorang wandu mampu mengalahkan puluhan kesatriaku seorang diri. Paman, apakah menurutmu semua ini hanya kebetulan?"
Sengkuni mengusap dagunya. Tatapannya semakin tajam mengarah kepada Wrehatnala.
Ia kemudian mendekat kepada keponakannya dan berbisik lirih. "Prabu, sejak awal aku tidak pernah percaya bahwa dia hanyalah seorang guru tari."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani