Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Gerak kakinya terlalu halus, bidikan panahnya terlalu sempurna, dan tata kramanya terlalu luhur."
Duryudana mengangguk pelan.
"Aku juga merasakannya."
Sengkuni melanjutkan ucapannya.
"Ada kemungkinan besar orang itu adalah salah satu Pandhawa."
Duryudana langsung menoleh.
"Siapa?"
Sengkuni menggeleng.
"Aku belum dapat memastikan. Namun, semakin lama perang berlangsung, semakin dekat pula kita pada jawabannya."
Belum sempat percakapan mereka usai, suara gaduh terdengar dari sisi kiri medan perang. Puluhan prajurit Kurawa berhamburan. Kereta-kereta terbalik, sementara kuda-kuda berlari ketakutan.
Di tengah kepulan debu muncul sosok bertubuh tinggi besar membawa sebatang pohon sebagai senjata.
Balawa, tukang jagal Kerajaan Wirata, datang sambil tertawa menggelegar.
"Ha... ha... ha...! Wrehatnala! Mengapa engkau menikmati perang sendirian?"
Satu ayunan batang pohon di tangannya membuat belasan prajurit Kurawa terpental.
Duryudana terdiam. Matanya tak berkedip menatap Balawa.
Wajah itu. Tubuh itu. Bahkan cara tertawanya.
Baca Juga: Lokasi Sekolah Rakyat Kota Madiun Bergeser Lagi, Kini Diusulkan di Nambangan Lor
Semuanya terasa begitu akrab.
Perlahan ia turun dari keretanya.
"Tidak..." gumamnya. "Aku mengenal orang itu."
Semakin lama Balawa bertempur, semakin jelas pula gerak-geriknya.
Cara memutar batang pohon, langkah kaki, hingga sorot matanya mengingatkan Duryudana kepada seseorang yang sejak kecil menjadi lawan abadinya.
Tiba-tiba wajah Raja Astina berubah pucat.
Dengan suara lantang ia berteriak,
"Berhenti!"
Medan perang seketika hening.
Duryudana menunjuk Balawa dengan telunjuk yang bergetar.
"Tak perlu lagi kau sembunyikan wajahmu! Engkau bukan Balawa!"
Balawa menghentikan ayunannya, lalu menoleh sambil tersenyum lebar.
Duryudana melangkah beberapa hasta mendekat.
"Aku mengenal tawa itu... aku mengenal tenaga itu... Engkau adalah Werkudara!"
Beberapa pangeran Kurawa saling berpandangan.
Sengkuni menyipitkan mata.
Dugaan mereka akhirnya mulai menemukan titik terang.
Duryudana tertawa penuh kemenangan.
"Ha... ha... ha...! Akhirnya ketahuan juga! Pandhawa gagal menjalani penyamarannya! Werkudara telah membuka kedoknya sebelum waktunya. Artinya, hukuman tiga belas tahun harus diulang dari awal!"
Mendengar tuduhan itu, Balawa melempar batang pohon yang dibawanya, lalu berdiri tegak. Senyumnya perlahan menghilang.
"Duryudana," katanya dengan suara berat, "jangan terlalu cepat bersorak. Lihatlah langit itu. Matahari telah tenggelam. Hari terakhir penyamaran kami telah usai. Tidak ada lagi janji yang kami langgar."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani