Cerpen Wayang: Terbongkarnya Penyamaran Pandawa Bagian 3, Duryudana Tolak Akui Perjanjian

Ki Damar • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 18:01 WIB
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa pergi setelah diasingkan. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Duryudana menggeleng keras.

"Tidak! Aku tidak menerima alasan itu! Bagiku, kalian tetap gagal!"

Suasana kembali menegang. Dua musuh lama itu saling bertatap penuh amarah, sementara Wrehatnala berdiri tenang di belakang Werkudara. Ia menyadari bahwa saat penentuan akhirnya benar-benar telah tiba.

Duryudana melangkah maju sambil menggenggam gada erat. Matanya memerah menahan amarah.

"Werkudara! Jangan mempermainkanku. Bagiku, matahari belum benar-benar tenggelam ketika engkau membuka penyamaranmu. Kesepakatan adalah kesepakatan. Pandhawa telah gagal!"

Werkudara tersenyum tipis. Namun, sorot matanya tajam menembus dada Duryudana.

"Duryudana, Kakangku. Engkau boleh menjadi raja, tetapi jangan memutarbalikkan waktu demi ambisimu. Matahari telah tenggelam, malam telah datang, dan masa penyamaran kami telah selesai. Kini kami berdiri bukan lagi sebagai pelayan Wirata, melainkan sebagai Pandawa."

Baca Juga: Padhang Mbranang Meriahkan Kota Madiun, Balai Kota Disulap Jadi Panggung Video Mapping

Duryudana kembali menggeleng keras.

"Tidak! Aku tidak akan pernah mengakui itu!" teriaknya lantang. "Sejak dahulu kalian selalu mencari celah untuk mengambil Astina!"

Werkudara tertawa kecil.

"Mengambil? Astina bukan barang rampasan, Duryudana. Negeri itu adalah hak yang dahulu kau rebut dengan tipu daya permainan dadu."

Kalimat itu membuat Duryudana mengepalkan tangan.

"Diam! Jangan mengungkit masa lalu!"

Werkudara melangkah semakin dekat.

"Justru masa lalulah yang hari ini datang menagih janji."

Patih Sengkuni segera berdiri di samping keponakannya. Dengan suara pelan, tetapi penuh racun, ia berbisik,

"Anak Prabu, jangan terpancing kata-katanya. Mereka sengaja mengulur waktu agar Wirata dapat menyusun barisan."

Duryudana masih menatap Werkudara tanpa berkedip.

Sengkuni kembali melanjutkan,

"Selama belum ada keputusan resmi, tetap nyatakan mereka melanggar janji. Jangan pernah mengalah sebelum Bharatayudha dimulai."

Duryudana mengangguk pelan.

"Benar, Paman. Aku tidak akan menyerahkan sejengkal pun Astina hanya karena permainan kata-kata."

Werkudara mendengar bisikan itu. Senyum sinis pun terukir di wajahnya.

"Patih Sengkuni... lidahmu memang tak pernah berubah. Bila kalah berdebat, engkau selalu memilih meracuni pikiran orang lain."

 

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
bharatayudha cerpen Pandawa wayang Duryudana