Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Sengkuni membalas dengan tawa pendek.
"Dan engkau, Werkudara, tetaplah manusia yang hanya mengandalkan otot."
Werkudara menggeleng pelan.
"Tidak, Paman. Hari ini aku mengandalkan kebenaran."
Duryudana mengangkat gadanya tinggi-tinggi.
"Cukup! Tidak ada lagi perdebatan. Jika kalian mengaku Pandhawa telah bebas, buktikan dengan kekuatan!"
Teriakan Duryudana menjadi aba-aba bagi seluruh pasukan Kurawa. Dursasana, Citrasena, Wikarna, Durmuka, Durjaya, dan puluhan pangeran Kurawa serentak menyerbu Werkudara.
Di sisi lain, Wrehatnala tetap berdiri di atas Garuda Yaksa sambil mengawasi keadaan. Ia memilih tidak mencampuri pertarungan kakaknya.
Werkudara tertawa menggelegar.
"Ha... ha... ha...! Kalian datang bersama-sama? Baik, akan kulayani!"
Baca Juga: Kejar 1.878 Kasus TBC, Dinkes Magetan Kerahkan Rontgen Keliling ke 22 Puskesmas
Dengan kedua tangannya, ia mencabut sebatang pohon besar di tepi medan perang.
Sekali diayunkan, puluhan tombak patah, kereta-kereta berguling, dan para prajurit berhamburan menyelamatkan diri.
Duryudana sendiri menerjang dengan gada andalannya. Dentuman benturan senjata mereka mengguncang tanah Wirata. Berkali-kali gada Duryudana menghantam, tetapi selalu berhasil ditangkis oleh lengan Werkudara.
"Masih sekuat dulu rupanya!" bentak Duryudana.
Werkudara tersenyum tipis.
"Dan engkau masih belum belajar menerima kenyataan."
Dengan satu dorongan keras, gada Duryudana terpental hingga beberapa langkah dari genggamannya.
Sebelum Raja Astina sempat menyeimbangkan tubuh, Werkudara menghentakkan telapak kakinya ke bumi.
Angin besar berputar laksana pusaran topan, menyapu barisan Kurawa hingga debu membumbung tinggi ke angkasa.
Sengkuni berteriak panik.
"Mundur! Selamatkan Anak Prabu!"
Namun, pusaran angin yang dibangkitkan tenaga Werkudara telah lebih dahulu menerjang.
Kereta-kereta Kurawa terangkat, panji-panji tercerabut, dan kuda-kuda berlari liar ke segala arah.
Dursasana berguling bersama keretanya. Citrasena dan Durmuka terlempar ke semak-semak, sementara Duryudana berusaha bertahan dengan menancapkan gadanya kuat-kuat ke tanah.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani