Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Di balik gegap gempita kemenangan, sosok yang sebenarnya berjasa belum tentu menjadi orang yang menerima pujian.
Kemenangan pasukan Wirata atas bala tentara Astina menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok negeri. Genderang kemenangan ditabuh tanpa henti.
Rakyat memenuhi jalan-jalan kota sambil membawa bunga dan janur kuning. Di dalam Paseban Agung, Prabu Matsapati duduk di singgasananya dengan wajah berbinar.
Para menteri dan prajurit silih berganti mengucapkan selamat. Seorang prajurit kemudian maju sambil bersujud.
"Daulat, Gusti Prabu! Putra Paduka, Raden Utara, telah berhasil memukul mundur Prabu Duryudana beserta seluruh pasukan Astina!"
Mendengar laporan itu, Matsapati bangkit dari singgasananya.
"Apa katamu? Utara berhasil mengalahkan Astina?"
"Benar, Gusti."
Senyum Matsapati semakin lebar.
Baca Juga: H2H Timnas Indonesia vs Kamboja: Garuda Superior tapi John Herdman Enggan Pandang Remeh
"Hari ini Wirata memiliki seorang pewaris yang pantas."
Prabu Matsapati memandang seluruh isi paseban dengan penuh kebanggaan.
"Aku tidak salah mendidik anakku. Kini terbukti Raden Utara layak menjadi putra mahkota. Bila kelak aku turun takhta, Wirata telah mempunyai pemimpin yang pemberani."
Para pejabat langsung mengangguk.
"Daulat... benar sekali, Gusti."
"Raden Utara memang calon raja yang hebat."
Ucapan itu membuat suasana semakin meriah. Hampir semua orang memuji sang pangeran tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di medan perang.
Di sudut paseban berdiri seorang laki-laki tua berpakaian sederhana. Dialah Dwija Kangka, lurah pasar Kerajaan Wirata. Sejak tadi ia hanya diam sambil menundukkan kepala.
Prabu Matsapati akhirnya menyadarinya.
"Kangka..."
"Hamba, Gusti."
"Mengapa engkau tidak ikut bergembira?"
Dwija Kangka menarik napas panjang.
"Karena hamba tidak ingin kebahagiaan Paduka dibangun di atas berita yang keliru."
Suasana paseban seketika menjadi sunyi.
Prabu Matsapati mengernyitkan dahi.
"Apa maksud ucapanmu?"
Dwija Kangka melangkah maju.
"Dengan segala hormat, Gusti Prabu... Raden Utara memang berada di medan perang. Tetapi... yang memukul mundur Astina bukanlah beliau."
Seluruh pejabat saling berpandangan. Wajah Matsapati mulai berubah.
Baca Juga: RAMALAN MBAH SAKAT Indonesia vs Kamboja, Laga Bertepatan Weton Senin Kliwon Neptu 12
"Lalu siapa?"
Dwija Kangka menjawab mantap.
"Wrehatnala."
Ucapan itu membuat para prajurit saling berbisik.
"Mustahil."
"Wandu itu?"
"Mana mungkin seorang guru tari mengalahkan Resi Bisma, Begawan Durna, Raja Awangga, dan Duryudana."
Prabu Matsapati tertawa kecil.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani