Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Belum sempat darah itu menetes ke lantai paseban, seorang abdi dalem keputren bernama Niken Salindri berlari masuk.
Tanpa menghiraukan tatapan para pejabat, ia segera merobek ujung jariknya untuk menadah darah putih yang mengalir dari kepala Dwija Kangka.
Prabu Matsapati membentak marah.
"Salindri! Siapa yang menyuruhmu masuk ke paseban?"
Namun, Niken Salindri tetap menadah darah itu dengan kedua tangannya. Wajahnya dipenuhi kecemasan. Sementara itu, seluruh penghuni pendapa hanya mampu memandang dengan rasa heran, seolah darah putih Dwija Kangka menyimpan sebuah rahasia besar yang belum mereka ketahui.
Prabu Matsapati berdiri dari singgasananya. Sorot matanya tajam menatap Niken Salindri yang masih berlutut sambil menadah darah putih Dwija Kangka dengan sobekan jariknya.
"Salindri!" bentaknya. "Berani sekali seorang abdi dalem keputren memasuki paseban tanpa perintah rajanya! Apakah tata krama kerajaan sudah tidak kauhiraukan?"
Salindri tetap menundukkan kepala.
"Ampun, Gusti Prabu. Hamba tidak bermaksud lancang."
"Lalu mengapa engkau berani melakukan ini?"
"Karena hamba tidak boleh membiarkan darah itu menyentuh bumi."
Matsapati mengernyitkan dahi.
"Darah itu? Memangnya mengapa?"
Salindri mengangkat wajahnya perlahan.
"Gusti Prabu, darah Dwija Kangka bukan darah orang biasa. Warnanya putih karena kesucian batinnya. Apabila darah suci itu jatuh ke tanah Wirata akibat kemarahan rajanya sendiri, para dewa akan menganggap Paduka telah menyakiti orang yang tidak bersalah."
Suasana paseban mendadak sunyi. Beberapa pejabat saling berpandangan dengan wajah cemas.
Namun, kemarahan telah menutup hati Prabu Matsapati.
"Cukup! Aku tidak percaya pada omong kosong seperti itu."
Ia menunjuk Dwija Kangka.
"Orang ini telah menghina putraku. Lalu engkau membelanya di hadapan seluruh pejabat!"
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani