Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Salindri menggeleng pelan.
"Hamba tidak sedang membela seseorang. Hamba sedang menjaga Wirata. Kadang-kadang keselamatan sebuah negeri justru ditentukan oleh keberanian mendengar kebenaran."
Kalimat itu justru membuat wajah Matsapati semakin merah.
Dwija Kangka yang kepalanya masih berdarah perlahan bangkit. Ia memberi sembah kepada rajanya.
"Gusti Prabu... hamba tidak pernah berniat merendahkan Raden Utara. Hamba hanya tidak sanggup menukar kebenaran dengan pujian. Mungkin hari ini Paduka membenci ucapan hamba. Tetapi kelak Paduka akan mengetahui bahwa kebohongan bawahan jauh lebih berbahaya daripada kejujuran seorang rakyat."
Matsapati menggertakkan giginya.
"Masih berani berkhotbah!"
Dengan penuh amarah, Prabu Matsapati mengibaskan tangannya.
Baca Juga: Cerpen Wayang Kemenangan Wirata Bagian 1: Pahlawan yang Sebenarnya
"Pengawal! Usir Dwija Kangka! Dan usir pula Salindri dari hadapanku! Hamba-hamba yang lebih memilih membela orang lain daripada menghormati rajanya tidak pantas berada di paseban!"
Dwija Kangka menundukkan kepala.
"Hamba menurut."
Salindri pun memberi sembah.
"Semoga Gusti Prabu selalu mendapat tuntunan para dewa."
Tanpa membalas lagi, keduanya melangkah keluar dari pendapa dengan tenang.
Belum lama mereka meninggalkan paseban, terdengar suara terompet kemenangan dari halaman istana.
"Putra Gusti Prabu telah datang!"
Seluruh pejabat segera berdiri.
Pintu pendapa terbuka lebar.
Raden Utara melangkah masuk dengan pakaian perang yang masih berdebu, diiringi sorak-sorai para prajurit Wirata.
Prabu Matsapati tersenyum lebar.
"Anakku!"
Matsapati turun dari singgasananya dan memeluk Raden Utara dengan penuh kebanggaan.
"Utara... hari ini engkau telah mengharumkan nama Wirata. Engkau telah mengalahkan Duryudana, Begawan Durna, Resi Bisma, Raja Awangga, dan seluruh pasukan Astina."
Air mata haru hampir menetes dari mata sang raja.
"Ayah tidak pernah menyangka engkau akan tumbuh menjadi kesatria sehebat ini."
Raden Utara hanya terdiam. Ia menundukkan kepala.
"Ayahanda..."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani