Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Masa hukuman Pandhawa selama tiga belas tahun akhirnya berakhir. Di Pendapa Agung Kerajaan Wirata berkumpul para raja sekutu, para brahmana, serta kelima Pandhawa.
Suasana begitu hening. Kegembiraan yang sempat menyelimuti mereka saat masa penyamaran usai kini telah sirna.
Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan besar: apakah Astina akan memenuhi janji yang telah disepakati?
Prabu Matsapati memecah keheningan.
"Wahai cucu-cucuku, kini masa hukuman telah selesai. Sudah waktunya hak kalian dikembalikan."
Puntadewa menundukkan kepala. "Itulah yang kami harapkan, Eyang. Kami tidak menginginkan peperangan. Kami hanya ingin janji itu ditepati."
Prabu Drupada kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Pandhawa telah menjalani penderitaan selama tiga belas tahun. Dahulu telah disepakati, setelah masa hukuman berakhir, Kerajaan Astina harus dikembalikan kepada mereka."
Baca Juga: Cetak Sejarah, Jatim Sabet Juara Umum LKS Nasional Empat Tahun Beruntun
Drupada menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Aku sendiri telah memohon kepada Duryudana agar memenuhi janjinya."
Puntadewa bertanya lirih,
"Lalu... bagaimana jawabannya?"
Drupada menggeleng perlahan.
"Permohonanku ditolak. Bahkan aku dipermalukan. Sungguh, mereka telah kehilangan kewarasan."
Pendapa kembali diselimuti kesunyian.
Werkudara mengepalkan kedua tangannya.
"Aku sudah menduganya! Duryudana tidak pernah mengenal arti sebuah janji."
Baca Juga: Kemarau Ancam Sawah, DKPP Ngawi Minta Petani Beralih dari Padi ke Tanaman Palawija
Arjuna memandang kakaknya dengan tenang. "Kakang, selama masih ada jalan damai, marilah kita menempuhnya."
Werkudara mengangguk pelan. "Aku juga menginginkan perdamaian. Namun, damai tidak akan pernah lahir dari hati yang dikuasai keserakahan."
Prabu Matsapati kemudian berdiri.
"Kalau begitu... masih ada satu jalan."
Seluruh penghuni pendapa memandang Raja Wirata.
"Kirimkan seorang duta untuk terakhir kalinya."
Beliau melanjutkan dengan suara mantap.
"Biarlah ini menjadi kesempatan terakhir bagi Kurawa. Jika mereka tetap menolak, para dewa sendiri akan menjadi saksi bahwa perang bukanlah kehendak Pandhawa."
Semua yang hadir menganggukkan kepala. Berbagai usulpun mulai bermunculan. "Bagaimana jika kembali mengirim Prabu Drupada?"
Usul itu segera disanggah. "Tidak. Duryudana sudah tidak lagi menghormatinya."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani