Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Lalu bagaimana jika Begawan Abiyasa?" usul Raden Seto.
"Beliau sudah terlalu tua," jawab Prabu Matsapati sambil menggeleng pelan.
Suasana kembali hening. Tak seorang pun berani mengajukan nama lain. Saat itulah pandangan Prabu Matsapati tertuju kepada seorang tamu yang sejak tadi hanya terdiam. Dialah Sri Kresna.
Prabu Matsapati segera memberi hormat.
"Prabu Kresna, sudikah Paduka menjadi duta pamungkas Pandhawa, wahai putu Prabu?"
Seluruh penghuni pendapa menoleh ke arah Raja Dwarawati. Kresna hanya tersenyum tenang. "Mengapa harus aku?"
Prabu Matsapati menjawab dengan penuh hormat.
"Karena Padukalah pamong Pandhawa. Paduka memahami isi hati mereka. Paduka pula yang senantiasa membimbing dan melindungi mereka. Kebijaksanaan Paduka masih dihormati oleh seluruh bangsa Bharata."
Baca Juga: Profil Sintya Galuh Rusi, Muse Makeup yang Sukses Meniti Karier sebagai Model
Puntadewa turut memberi hormat.
"Kakang Prabu, kami tidak menginginkan peperangan. Jika masih ada setitik harapan untuk berdamai, kami mohon Padukalah yang memperjuangkannya."
Kresna memandang wajah kelima Pandhawa satu per satu. Setelah beberapa saat, senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.
"Baik. Aku akan berangkat. Namun ingatlah, aku datang membawa perdamaian, bukan membawa ketakutan."
Sementara itu, di Kerajaan Astina, Prabu Duryudana telah mengumpulkan seluruh pembesar kerajaan.
Di sebelah kanannya duduk Resi Bisma. Di sebelah kirinya duduk Begawan Durna. Di belakang mereka berdiri Raja Awangga Narapati Basukarna, Patih Sengkuni, Dursasana, serta para pangeran Kurawa.
Duryudana membuka sidang.
"Aku mendengar Pandhawa akan kembali menuntut Astina. Apa pendapat kalian?"
Panembahan Bisma berdiri lebih dahulu.
"Cucuku, janji seorang raja adalah kehormatan sebuah kerajaan. Pandhawa telah menyelesaikan masa hukumannya. Karena itu, kembalikanlah hak mereka."
Begawan Durna mengangguk menyetujui. "Benar. Jangan sampai Bharata tenggelam dalam peperangan hanya karena satu janji yang diingkari."
Namun, sebelum Duryudana sempat menjawab, Patih Sengkuni tertawa sinis. "Panembahan... Begawan... Paduka berdua terlalu memikirkan Pandhawa."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani