Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Basukarna kemudian melangkah maju.
"Yayi Prabu Duryudana, menurut hamba, Astina tidak boleh dipecah. Sebuah negara yang besar harus tetap utuh. Bila separuh Astina diserahkan kepada Pandhawa, maka kekuatan Bharata akan terbelah."
Patih Sengkuni segera menimpali.
"Itulah yang sejak dahulu hamba khawatirkan. Dharma memang penting, tetapi menjaga keutuhan negara jauh lebih penting. Bukankah menjaga keutuhan negara juga merupakan tanggung jawab seorang raja? Lalu, raja mana yang rela negerinya dibelah lalu dibagi?"
Duryudana perlahan bangkit dari singgasananya. Tatapannya berubah tajam.
"Aku telah memutuskan. Astina tidak akan kuberikan kepada Pandhawa."
Keputusan itu membuat Resi Bisma dan Begawan Durna hanya mampu saling berpandangan dengan wajah penuh kekecewaan.
Sementara itu, jauh dari Astina, Sri Kresna tengah bersiap menjalankan tugas sebagai duta terakhir demi mewujudkan perdamaian.
Keesokan harinya, kereta Kiai Jaladara milik Sri Kresna memasuki gerbang Astina. Kedatangannya disambut bunyi terompet kerajaan, tetapi suasana istana sama sekali tidak memancarkan kehangatan.
Baca Juga: KKB Serang Pekerja Proyek Jalan di Tolikara, Papua Pegunungan, Lima Orang Tewas
Di Balairung Agung telah duduk Prabu Duryudana bersama Resi Bisma, Begawan Durna, Raja Awangga Basukarna, Patih Sengkuni, Dursasana, serta para pembesar Kurawa.
Sri Kresna melangkah dengan tenang menuju tengah pendapa. Dengan senyum yang teduh, ia memberi sembah.
"Prabu Duryudana, hamba datang bukan sebagai Raja Dwarawati, melainkan sebagai duta Pandhawa."
Duryudana menjawab dengan nada dingin.
"Aku sudah mengetahui maksud kedatanganmu. Katakan saja, apa yang mereka inginkan?"
Sri Kresna memandang seluruh penghuni balairung sebelum akhirnya berbicara.
"Aku datang bukan untuk meminta belas kasihan. Aku hanya datang untuk mengingatkan sebuah janji. Tiga belas tahun telah berlalu. Pandhawa telah menjalani hukuman tanpa mengurangi sehari pun. Kini telah tiba saatnya Astina memenuhi kesepakatan itu."
Balairung Agung seketika diliputi keheningan.
Resi Bisma menganggukkan kepala pelan, seolah membenarkan setiap kata yang diucapkan Sri Kresna. Begawan Durna memejamkan mata, menyadari bahwa tuntutan itu lahir dari sebuah janji yang memang harus ditepati.
Di tengah suasana yang mencekam, Duryudana perlahan bangkit dari singgasananya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani