Cerpen Wayang Setyaki dan Sungai Gangga Bagian 1: Bayang-Bayang Perang

Ki Damar • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 16:32 WIB
Ilustrasi Sungai Gangga dalam cerita wayang.
Ilustrasi Sungai Gangga dalam cerita wayang.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

SETELAH meninggalkan Astina, Sri Kresna tidak langsung kembali ke Wirata. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya menyimpan kedukaan yang amat dalam.

Upaya terakhir untuk menegakkan perdamaian telah resmi runtuh. Kereta Kencana Garuda terus melaju, membelah padang Bharata yang senyap, sementara di dalam hati Kresna hanya tersisa satu tujuan.

"Aku harus menemui Basukarna sebelum perang benar-benar meletus."

Namun sebelum melangkah lebih jauh, ia harus memastikan satu hal: mencari kesatria yang paling setia berada di sisinya.

Setyaki.

Di sebuah hamparan padang yang luas, debu tebal beterbangan memenuhi udara, berpadu dengan gemuruh senjata yang berderap bersahutan.

Baca Juga: AXIS School Fest 2026 Hadir di SMKN 2 Ponorogo, Ratusan Siswa Dibekali Public Speaking hingga Jurnalistik

Di tengah kecamuk itu, Raden Setyaki berdiri tegak, berhadapan langsung dengan Burisrawa.

Kedua kesatria saling melempar tatapan tajam, sementara tombak dan panah telah siaga di tangan masing-masing.

Dengan amarah yang meluap-luap, Burisrawa menunjuk wajah Setyaki.

"Setyaki! Kesombonganmu sudah lama membuatku muak. Hari ini, aku akan menghapus namamu dari muka bumi Bharata!"

Setyaki hanya tersenyum tipis, menanggapi kemarahan itu dengan dingin.

"Aku bahkan tidak pernah berniat mencarimu. Mengapa kebencianmu begitu besar kepadaku, Burisrawa?"

Burisrawa mengangkat busurnya tinggi-tinggi hingga melengkung sempurna.

Baca Juga: Panen Raya Bikin Harga Tomat di Magetan Jatuh, Cabai Rawit Justru Melonjak

"Jangan berpura-pura bodoh! Engkau selalu duduk di sisi Sri Kresna, berjalan seolah-olah tiada lagi kesatria yang mampu menandingi kehebatanmu. Semua orang memujimu, padahal bagiku, engkau hanyalah seorang kesatria yang angkuh!"

Setyaki menggelengkan kepalanya perlahan.

"Kalau sekadar duduk di kereta raja sesembahanku dianggap sebagai kesombongan, di mana letak kesalahanku? Aku mengabdi dan menghormati Prabu Kresna semata-mata karena keyakinanku, bukan untuk meninggikan diriku sendiri."

Mendengar jawaban itu, Burisrawa semakin dikuasai murka.

"Jangan berdalih! Paman Sengkuni telah membuka mataku. Ia berkata bahwa engkau selalu meremehkan para kesatria Astina, dan menganggap dirimu sebagai pewaris mutlak kehebatan Kresna!"

Setyaki terdiam sejenak. Angin padang rumput berhembus kencang, membawa serta aroma debu dan sisa-sisa logam yang bergesekan. Ia menghela napas panjang, bersiap menghadapi badai pertarungan yang sudah di ambang mata. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
cerpen burisrawa Baratayuda wayang setyaki