Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"JADI... semua ini berasal dari hasutan Sengkuni. Kasihan sekali dirimu, Burisrawa. Engkau memerangi orang yang tidak pernah berniat memusuhimu."
Ucapan itu justru semakin membakar hati Burisrawa hingga ke titik nadir.
"Cukup! Buktikan jika engkau memang benar-benar seorang kesatria!"
Tanpa menunggu lama, anak panah dilepaskan bertubi-tubi tanpa henti. Setyaki membalas serangan itu dengan kecepatan yang tidak kalah mengagumkan.
Dentingan senjata beradu nyaring, menggema ke seluruh penjuru padang.
Tidak ada yang mampu mengungguli lawannya; dua kesatria itu bertarung dalam keseimbangan yang sempurna, sementara angin membawa debu berputar mengelilingi arena pertarungan mereka.
Di saat pertempuran mencapai puncaknya, tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenal oleh Setyaki.
"Setyaki..."
Baca Juga: Panen Raya Bikin Harga Tomat di Magetan Jatuh, Cabai Rawit Justru Melonjak
Kesatria Madura itu seketika menoleh ke arah sumber suara.
"Kaka Prabu Kresna?"
Sri Kresna berdiri dengan tenang di tepi medan laga. "Turunkan senjatamu, Setyaki."
Setyaki tertegun, diliputi rasa terkejut. "Tetapi, Prabu... Pertarungan ini belum selesai."
Kresna menggeleng perlahan, sorot matanya menyiratkan ketegasan. "Ada peperangan yang jauh lebih besar dan penting yang sedang menunggumu."
Setyaki segera mengangkat tangan, memberi sembah dengan takzim. "Apakah Paduka berhasil membawa kedamaian dengan para Kurawa?"
Sri Kresna menatap langit sore yang mulai memerah saga. "Tidak. Duryudana menolak seluruh jalan damai yang ditawarkan. Perang Bharatayudha tidak lagi dapat dihindari."
Kalimat singkat itu membuat Setyaki menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dadanya terasa sesak seketika.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa badai kehancuran terbesar dalam sejarah tanah Bharata benar-benar di ambang mata.
Sri Kresna melangkah mendekat dan memegang bahu Setyaki dengan lembut.
"Adikku Setyaki... Tahanlah amarahmu. Jangan habiskan tenaga serta kesucian jiwamu untuk pertarungan kecil seperti ini. Simpan seluruh keberanianmu. Karena Bharatayudha kelak membutuhkan kesatria yang masih utuh raga dan jiwanya," tuturnya.
Setyaki mengangguk hormat, meresapi setiap petuah yang diberikan oleh sang sesembahan. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani