Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"HAMBA akan mematuhi setiap titah Paduka."
Burisrawa hanya bisa menggertakkan gigi dengan amarah yang tertahan, menyaksikan Setyaki pergi meninggalkan medan laga begitu saja tanpa menyelesaikan pertarungan.
Setelah cukup jauh dari arena pertempuran, Setyaki memberanikan diri untuk bertanya.
"Kaka Prabu, ke mana sebenarnya kita akan pergi?"
Sri Kresna menjawab dengan singkat dan tenang. "Kita akan mencari Basukarna."
Setyaki mengernyitkan dahi, diliputi rasa heran yang mendalam. "Basukarna? Bukankah seharusnya beliau berada di Astina? Mengapa kita justru mencarinya di tempat lain?"
Kresna tersenyum kecil penuh misteri. "Kita menuju ke Sungai Gangga."
Setyaki semakin dibuat bingung oleh jawaban sang raja. "Sinuwun, mengapa harus ke Sungai Gangga? Mengapa bukan langsung ke Kadipaten Awangga?"
Baca Juga: Pemkab Ponorogo Lelang 26 Proyek Jalan, Paket Digabung agar Lebih Cepat dan Hemat
Sri Kresna memandang aliran air sungai yang mulai tampak dari kejauhan, sementara sorot matanya menyiratkan keharuan yang mendalam.
"Karena Gangga adalah awal dari seluruh perjalanan hidup Basukarna. Di sungai itulah dahulu seorang bayi tak berdosa dihanyutkan oleh arus takdir. Di sungai itu pula ia ditemukan, dibesarkan, hingga akhirnya tumbuh menjadi kesatria agung yang disegani oleh seluruh dunia Bharata. Baginya, Gangga bukan sekadar sungai, melainkan sosok ibu yang mempertemukannya dengan kehidupan."
Setyaki terdiam seribu bahasa. Baru kali itu ia melihat wajah Sri Kresna begitu pilu ketika menyebut nama Basukarna, seolah ada rahasia besar dan beban sejarah yang selama ini disimpan rapat di dalam lubuk hatinya.
Kereta Kyai Jaladara terus melaju dengan lembut, menyusuri jalan setapak di tepian Sungai Gangga. Riak air mengalir dengan tenang, seolah menyimpan berjuta kisah pilu yang telah berlalu di masa lampau. Setyaki kembali mencuri pandang ke arah wajah Sri Kresna yang sejak tadi membisu. Belum pernah seumur hidupnya ia melihat sang raja semuram itu.
"Sinuwun... Mengapa Paduka tampak begitu sedih setiap kali menyebut nama Basukarna?"
Sri Kresna melirik sekilas lalu tersenyum tipis, namun senyuman itu justru memancarkan kepedihan yang teramat sangat. "Karena setiap kali aku menyebut namanya... aku teringat betapa kejamnya takdir memperlakukan seorang anak manusia."
Setyaki terpaku. Ia kembali menatap hamparan air Sungai Gangga yang berkilau gemerlap diterpa cahaya matahari sore, menunggu rahasia besar apa yang akan segera terungkap di hadapan mereka.
(*/naz)
Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani