Cerpen Wayang Setyaki dan Sungai Gangga Bagian 4: Rahasia di Balik Aliran Sungai

Ki Damar • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 19:17 WIB
Ilustrasi Sungai Gangga dalam cerita wayang.
Ilustrasi Sungai Gangga dalam cerita wayang.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"APAKAH benar Basukarna pernah dihanyutkan di sungai ini?" tanya Setyaki dengan nada penasaran.

Sri Kresna menganggukkan kepalanya perlahan. "Benar. Ketika masih berwujud bayi merah... ia dimasukkan ke dalam sebuah peti kecil, lalu dihanyutkan begitu saja mengikuti derasnya arus Gangga."

Setyaki menghela napas panjang, meresapi kengerian cerita itu. "Anak sekecil itu... harus terpisah dari dekapan ibunya sejak mula. Betapa pedihnya takdir yang harus ia tanggung."

Sri Kresna menghentikan langkah keretanya, lalu berdiri terpaku di tepi sungai.

"Takdir terkadang memang berjalan dengan cara yang sulit dipahami oleh akal manusia. Seandainya Sungai Gangga tidak menerima bayi itu... mungkin dunia Bharata tidak akan pernah mengenal nama besar Basukarna. Air sungai inilah yang mengantarkannya kepada keluarga kusir yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Itulah sebabnya ia selalu menghormati Gangga. Bukan karena wujud airnya... tetapi karena dari sinilah lembaran hidupnya benar-benar dimulai," terangnya.

Setyaki hanya mampu menundukkan kepala, diliputi rasa haru. "Kaka Prabu... apakah Basukarna sendiri mengetahui siapa ibu kandungnya?"

Sri Kresna memandang jauh ke arah air yang mengalir tenang.

"Ia mengetahuinya... tetapi kenyataan itu datang terlalu terlambat. Ketika kebenaran akhirnya terungkap di hadapannya, hatinya kadung terpaut dan mengabdi kepada orang tua angkat yang membesarkannya. Terkadang, manusia tidak benar-benar memilih jalan hidupnya sendiri. Takdirlah yang memilihkan jalan itu untuk mereka," jelasnya.

Baca Juga: AXIS School Fest 2026 Hadir di SMKN 2 Ponorogo, Ratusan Siswa Dibekali Public Speaking hingga Jurnalistik

Setyaki menggenggam erat busur yang tersampir di bahunya. "Kalau begitu... Basukarna sesungguhnya bukanlah orang jahat seperti yang sering dikatakan orang."

Sri Kresna menggeleng pelan. "Jangan pernah menilai seseorang hanya dari kubu atau pihak yang dibelanya. Basukarna memiliki hati yang mulia. Ia amat setia kepada orang yang mengangkat derajatnya. Ironisnya, justru kesetiaan yang agung itulah yang kelak menjadi sumber penderitaan terbesarnya."

Angin sore berembus pelan di antara pepohonan, seakan ikut membawa beban kesedihan yang menyelimuti percakapan kedua tokoh tersebut. Setyaki kembali memberanikan diri bertanya.

"Kalau Paduka mengetahui semua rahasia besar itu... mengapa Paduka tidak memintanya untuk meninggalkan pihak Kurawa?"

Sri Kresna tersenyum lirih, senyum yang menyimpan sejuta kebijaksanaan.

"Kesetiaan sejati tidak dapat dibeli dengan kata-kata, apalagi dipaksa dengan kekuasaan. Aku datang ke sini bukan untuk memaksa, melainkan hanya ingin menunjukkan kebenaran. Keputusan akhir tetap berada di tangan Basukarna. Seorang kesatria sejati harus berani menentukan jalannya sendiri, apapun risiko yang harus ia hadapi."

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
cerpen basukarna wayang setyaki