Cerpen Wayang Setyaki dan Sungai Gangga Bagian 5 Habis: Pertemuan di Tepi Senja

Ki Damar • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 20:35 WIB
Ilustrasi Sungai Gangga dalam cerita wayang.
Ilustrasi Sungai Gangga dalam cerita wayang.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

MEREKA terus menyusuri jalan setapak di tepian Sungai Gangga, hingga akhirnya tampak sosok seorang kesatria berdiri seorang diri, menatap lurus ke arah arus sungai yang mengalir. Jubah kebesarannya berkibar diterpa angin senja, sementara baju zirahnya memantulkan cahaya keemasan matahari yang perlahan turun.

Setyaki berbisik pelan, "Kaka Prabu... itu..."

Sri Kresna mengangguk perlahan. "Benar. Itulah Basukarna."

Kesatria agung dari Awangga itu tidak menoleh sedikit pun ketika didekati, seolah ia telah mengetahui siapa yang datang menghampirinya.

Basukarna tetap tenang memandang permukaan Sungai Gangga. Tanpa mengalihkan pandangannya, ia berkata dengan suara yang tenang.

"Engkau datang menemuiku, Kakang Prabu?"

Sri Kresna tersenyum hangat. "Engkau selalu tahu cara dan tempat untuk kembali, terutama ketika hatimu sedang dirundung gelisah."

Basukarna menarik napas panjang, membiarkan angin senja membelai wajahnya. "Di sinilah hidupku bermula. Dan di sinilah aku selalu mencari ketenangan serta jawaban ketika dunia terasa begitu berat untuk dipikul."

Setyaki hanya terdiam seribu bahasa, menyaksikan dua tokoh besar dunia Bharata berdiri saling berhadapan di tepi sungai yang menjadi saksi bisu perjalanan takdir mereka.

Baca Juga: Bocoran iPhone 18e: RAM Naik Jadi 9 GB, Performa Apple Intelligence Bakal Semakin Kencang

Sri Kresna melangkah mendekati Basukarna dengan penuh kehati-hatian.

"Aku datang ke sini bukan sebagai musuh, bukan pula sebagai Raja Dwarawati yang membawa titah kekuasaan. Aku datang sebagai seseorang yang masih berharap agar pertumpahan darah ini dapat dihindari."

Basukarna tersenyum pahit, sebuah senyuman yang menyembunyikan sejuta beban batin.

"Kakang Prabu... jika kedatanganmu bertujuan untuk membujukku meninggalkan Duryudana dan membelot, kupikir jawabannya sudah dapat kau tebak sejak lama."

Sri Kresna tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lekat-lekat wajah Basukarna dengan sorot mata yang dipenuhi rasa iba yang teramat sangat.

Mentari perlahan tenggelam di ufuk barat. Cahaya kemerahan memantul sempurna di permukaan Sungai Gangga, menyelimuti ketiga kesatria itu dalam keheningan yang sarat akan makna.

Setyaki merasakan di dalam hatinya bahwa perjumpaan ini bukanlah sekadar pertemuan biasa, melainkan gerbang pembuka dari sebuah rahasia besar yang akan menentukan arah jalannya Perang Bharatayudha.

Sri Kresna memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan batin, lalu berucap dengan suara yang tenang namun berwibawa.

"Yayi Basukarna... malam ini aku tidak datang untuk memaksa pilihan hidupmu. Aku hanya ingin engkau mendengar satu kebenaran mutlak yang selama ini tertutup rapat oleh rahasia takdir," tuturnya.

Mendengar kalimat itu, Basukarna akhirnya menoleh perlahan. Tatapannya tajam bertemu langsung dengan mata Sri Kresna. Di antara deru suara aliran Sungai Gangga yang tak pernah berhenti, babak baru dari kisah agung dua kesatria utama Bharata pun resmi dimulai. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
cerpen basukarna Kresna wayang