Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Setelah berpisah dengan Basukarna di tepian Sungai Gangga, kereta Kyai Jaladara milik Sri Kresna melaju menuju Panggombakan, tempat Dewi Kunti Talibrata tinggal bersama Widura.
Angin sore bertiup lembut menyusuri perjalanan, tetapi hati Sri Kresna masih diselimuti kegagalan. Jalan damai telah tertutup. Bharatayudha kini tinggal menunggu waktu.
Di dalam benaknya, pesan Puntadewa kembali terngiang. Sebelum Sri Kresna berangkat menjalankan tugas sebagai duta, Puntadewa telah menitipkan satu permintaan kepadanya.
“Kakang Prabu, berhasil ataupun tidak paduka menjalankan tugas sebagai duta, mohon bawalah Ibu kembali ke Wirata. Selama Ibu berada di sisi kami, restunya akan menjadi kekuatan dan kedamaian bagi Pandhawa,” pesan Puntadewa.
Sementara itu, di sebuah pendapa sederhana di Panggombakan, Dewi Kunti duduk bersama Widura. Kakak ipar dan adik ipar itu memandang langit senja dengan wajah penuh kegelisahan.
Keduanya seakan memahami bahwa hari-hari damai yang tersisa semakin sedikit.
Widura menghela napas panjang. “Kakang Mbok Dewi, manusia memang aneh. Semakin banyak yang dimiliki, semakin sulit merasa cukup,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Telur di Magetan Anjlok, Produksi 79,2 Ton Sehari Jauh Lampaui Konsumsi
Kunti menganggukkan kepala. Pandangannya tetap tertuju pada langit yang perlahan berubah warna.
“Yang diperebutkan hanyalah dunia. Padahal, semuanya akan ditinggalkan pada akhirnya,” tutur Kunti lirih.
“Aku telah berulang kali menasihati Duryudana,” ujar Widura dengan suara tenang. “Namun, telinganya telah tertutup oleh keserakahan.”
Kunti memejamkan mata sejenak. Ada kesedihan yang begitu dalam di wajahnya ketika membayangkan anak-anaknya yang kini berada di ambang perang besar.
“Keserakahan memang mampu membutakan kasih sayang. Ketika hati telah dikuasai nafsu memiliki, yang tersisa hanyalah permusuhan,” ucap Kunti.
Suasana kembali hening. Hanya desir angin senja yang terdengar di antara pepohonan. Tak lama kemudian, suara roda kereta memecah keheningan. Kereta berhenti di halaman pendapa, disusul langkah tergesa seorang abdi yang segera masuk dan memberi sembah.
“Gusti, Prabu Sri Kresna telah datang,” lapor sang abdi.
Wajah Kunti sedikit berbinar. Ada harapan yang seketika tumbuh di dalam hatinya.
“Kresna? Segera persilakan masuk,” pinta Kunti.
Tak lama kemudian, Sri Kresna memasuki pendapa. Ia segera memberi sembah kepada bibinya dengan penuh hormat.
“Bibi,” sapa Sri Kresna lembut.
Kunti membalasnya dengan senyum hangat. “Selamat datang, anakku, Prabu Kresna.”
Belum sempat Sri Kresna duduk, Kunti segera menanyakan hasil perjalanannya ke Astina.
“Kresna, bagaimana hasil perundinganmu di Astina?”
Sri Kresna terdiam sesaat. Wajahnya yang biasanya tenang tampak menyimpan beban berat. Ia tahu, jawaban yang akan disampaikannya kepada Kunti bukanlah kabar yang mudah diterima.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani