Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Sri Kresna kemudian menjawab perlahan, “Bibi, Duryudana tetap menolak. Ia tidak bersedia menyerahkan hak Pandhawa. Perang tidak lagi dapat dihindari.”
Mendengar jawaban itu, wajah Kunti kembali muram. Widura menundukkan kepala.
Berat rasanya menerima kenyataan bahwa segala upaya untuk mencegah pertumpahan darah telah menemui jalan buntu.
“Semua nasihat telah diberikan. Panembahan Bisma telah berbicara. Begawan Durna juga telah mengingatkan. Bahkan engkau sendiri datang sebagai duta. Namun, hati yang telah dipenuhi keserakahan memang sulit menerima kebenaran,” tutur Widura.
Sri Kresna menganggukkan kepala perlahan. “Benar, Paman.”
Sesaat kemudian, Sri Kresna memandang wajah Kunti. Ada sesuatu yang masih disimpannya sejak meninggalkan Astina. Ia tahu, kabar berikutnya akan mengguncang hati bibinya.
“Bibi, sebelum kembali kemari, aku sempat menemui seseorang,” ujar Sri Kresna.
Baca Juga: Sidang Maidi Ungkap ATM Dititipkan ke Pemilik Butik, PIN Ikut Diserahkan
Kunti mengernyitkan dahi. “Siapa?”
Sri Kresna menjawab lirih, “Basukarna.”
Mendengar nama itu, tubuh Kunti seketika bergetar. Wajahnya berubah pucat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, seolah seluruh kenangan yang selama ini disimpannya kembali terbuka.
Dengan suara bergetar, Kunti bertanya, “Bagaimana keadaan anakku? Apakah ia sehat? Apakah... ia masih mengingat ibunya?”
Sri Kresna menggenggam tangan bibinya dengan lembut. “Basukarna sehat. Dan ia telah mengetahui siapa ibu kandungnya.”
Kunti segera menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.
“Duh, Gusti... anakku,” lirih Kunti di antara isak tangisnya.
Sri Kresna membiarkan bibinya meluapkan kesedihan sebelum melanjutkan ceritanya.
“Aku membawa pesan Arjuna. Arjuna memohon agar Basukarna meninggalkan Kurawa dan kembali bersama saudara-saudaranya,” tutur Sri Kresna.
Kunti segera mengangkat wajah. Tatapannya penuh harap, meski hatinya telah diliputi kecemasan.
“Lalu... apa jawabannya?”
Sri Kresna menghela napas panjang. Ia tahu, jawaban itu akan semakin menambah luka di hati Kunti.
“Ia menolak. Bukan karena membenci Pandhawa, melainkan karena tidak ingin mengkhianati balas budinya kepada Duryudana.”
Air mata Dewi Kunti akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Tidak ada lagi yang mampu disembunyikannya. Di hadapan Sri Kresna dan Widura, ia hanyalah seorang ibu yang sedang menghadapi kenyataan paling pahit dalam hidupnya.
“Anakku... kalian semua adalah darah dagingku. Bagaimana mungkin seorang ibu sanggup melihat anak-anaknya saling mengangkat senjata?” ucap Kunti dengan suara parau.
Sri Kresna menundukkan kepala. Untuk sesaat, ia pun tidak menemukan kata-kata yang mampu menghibur hati bibinya.
“Bibi... itulah takdir yang sedang berjalan,” ujar Sri Kresna lirih.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani