Cerpen Wayang Kembalinya Dewi Kunti Bagian 4: Jalan yang Dipilih Para Pandhawa

Ki Damar • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 19:55 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Dewi Kunti. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Dewi Kunti. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Sri Kresna hanya menundukkan kepala. Ia memahami bahwa harapan Kunti begitu mulia, tetapi perang kini telah berada di ambang pintu. Tidak ada lagi yang mampu memastikan apakah jalan damai masih tersisa.

Kereta Kyai Jaladara pun dipersiapkan. Sebelum Kunti menaikinya, Widura kembali memberi sembah. Tatapannya menyimpan kesedihan, tetapi ia berusaha tetap tegar di hadapan kakak iparnya.

“Kakang Mbok Dewi, jangan menangisi sesuatu yang belum terjadi. Doakanlah agar setiap anak paduka tetap berjalan di jalan kehormatan,” ujar Widura.

Kunti menatap Widura sejenak, lalu menjawab lirih, “Aku akan melakukannya. Semoga para dewa menjaga mereka.”

Kereta mulai bergerak meninggalkan Panggombakan. Widura berdiri di halaman, memandangi kepergian kakak iparnya hingga kereta itu perlahan menghilang di kejauhan.

Setelah tidak lagi melihat bayangan kereta, Widura menengadahkan wajah ke langit dan memanjatkan doa.

“Ya Hyang Widhi, selamatkanlah Bharata dari kebinasaan. Bila perang tak dapat dicegah, semoga kebenaran tetap menjadi pemenangnya,” doa Widura dalam hati.

Baca Juga: Warga Kota Madiun Makin Panjang Umur, Pemkot Bidik UHH Tembus 78 Tahun

Sementara itu, di dalam kereta, Kunti memecah keheningan. Sejak meninggalkan Panggombakan, pikirannya terus tertuju kepada putra sulungnya yang selama bertahun-tahun hidup jauh darinya.

“Kresna, apakah Basukarna tampak membenciku?” tanya Kunti dengan suara lirih.

Sri Kresna menggeleng perlahan. “Tidak, Bibi. Di matanya tidak ada kebencian. Yang ada hanyalah kesetiaan kepada orang yang telah mengangkat derajatnya.”

Mata Kunti kembali berkaca-kaca. Ia menundukkan wajah, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang.

“Anakku memang berhati mulia,” ucap Kunti.

Sri Kresna menatap bibinya dengan penuh hormat. “Bibi, jangan salahkan Basukarna. Ia memilih jalan yang menurutnya benar, sebagaimana Pandhawa memilih jalan dharma. Kadang-kadang takdir mempertemukan orang-orang baik di medan yang saling berlawanan.”

Kunti mengangguk pelan. Kesedihan masih memenuhi hatinya, tetapi kini ia berusaha menerimanya sebagai bagian dari jalan kehidupan putra-putranya.

Baca Juga: Sidang Maidi Ungkap ATM Dititipkan ke Pemilik Butik, PIN Ikut Diserahkan

“Aku akan mendoakan mereka semua,” tutur Kunti.

Kereta terus melaju menuju Kerajaan Wirata. Senja perlahan berubah menjadi malam.

Di dalam perjalanan, Dewi Kunti memejamkan mata sambil merapalkan doa bagi keenam putranya, Pandhawa maupun Basukarna. Tidak ada satu pun yang ingin ia tinggalkan dari doanya. Mereka semua adalah darah dagingnya.

Sri Kresna memegang kendali kereta dengan wajah tenang.

Sementara itu, jauh di belakang mereka, Widura masih berdiri di Panggombakan, memandang jalan yang mulai sepi. Keduanya memahami bahwa waktu untuk berunding telah berakhir.

Kini yang tersisa hanyalah doa, keteguhan hati, dan penantian menuju Bharatayudha, perang yang akan menguji kasih sayang seorang ibu, kesetiaan seorang sahabat, dan kebenaran seorang kesatria.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
pandhawa cerpen wayang dewi kunti