Cerpen Wayang Kembalinya Dewi Kunti Bagian 5 Akhir: Pelukan Terakhir sebelum Menuju Medan Perang

Ki Damar • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 20:51 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Dewi Kunti. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Dewi Kunti. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Menjelang malam, kereta Garuda akhirnya memasuki halaman Kerajaan Wirata. Kedatangan Sri Kresna bersama Dewi Kunti telah dinantikan oleh kelima Pandhawa.

Begitu melihat ibundanya turun dari kereta, Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa segera berlari menghampiri. Mereka bersimpuh di hadapan Dewi Kunti dan mencium tangannya dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu...” ucap Puntadewa lirih. “Akhirnya Ibu kembali bersama kami.”

Dewi Kunti mengusap kepala putra sulungnya dengan penuh kasih. “Anak-anakku... akhirnya kita berkumpul kembali.”

Kunti kemudian membuka kedua lengannya. Kelima Pandhawa segera memeluk ibunya dengan erat. Air mata kerinduan mengalir tanpa mampu dibendung.

Di mata Dewi Kunti, lima kesatria yang disegani di seluruh Bharata itu bukanlah raja ataupun panglima perang. Mereka tetaplah anak-anaknya, seperti dahulu, yang selalu mencari pelukan dan kasih sayang ibunya.

“Kalian telah tumbuh menjadi kesatria yang perkasa,” ujar Dewi Kunti dengan suara bergetar. “Tetapi di mata seorang ibu, kalian akan selalu menjadi anak-anak yang selalu kurindukan.”

Kelima Pandhawa semakin mengeratkan pelukan mereka. Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan kerinduan yang telah lama tersimpan.

Baca Juga: Kemarau Panjang Ancam Kota Madiun, BPBD Siapkan Dua Tangki Antisipasi Kekeringan

Untuk sesaat, mereka tidak memikirkan kerajaan, kehormatan, ataupun perang yang sebentar lagi akan mengguncang tanah Bharata.

Sri Kresna memandang pertemuan itu dengan senyum penuh haru. Beliau tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Baginya, pelukan seorang ibu jauh lebih menenangkan daripada ribuan nasihat. Ia membiarkan keluarga itu menikmati kebahagiaan yang mungkin tidak akan datang dua kali.

Setelah beberapa saat, Dewi Kunti melepaskan pelukan. Ia mengusap wajah kelima putranya satu per satu. Tatapannya penuh kasih, tetapi di baliknya tersimpan kekhawatiran seorang ibu yang mengetahui bahwa anak-anaknya akan segera menghadapi perang besar.

“Anak-anakku, apabila Bharatayudha benar-benar menjadi jalan takdir kalian, berperanglah demi menegakkan dharma. Jangan pernah berperang karena kebencian,” pesan Dewi Kunti.

Puntadewa kemudian memberi sembah mewakili saudara-saudaranya.

“Kami berjanji, Ibu. Restu dan doa Ibu akan menjadi kekuatan terbesar kami,” jawab Puntadewa.

Dewi Kunti mengangguk. Air matanya kembali mengalir, tetapi kali ini bukan semata-mata karena kesedihan. Ada keteguhan di dalam tatapannya.

Baca Juga: Sidang Maidi Ungkap ATM Dititipkan ke Pemilik Butik, PIN Ikut Diserahkan

Ia telah kembali kepada putra-putranya, bukan untuk menghalangi takdir, melainkan untuk memberi mereka kekuatan sebelum menjalani jalan yang telah terbentang di hadapan mereka.

Malam itu, Pendapa Agung Wirata dipenuhi kehangatan kasih seorang ibu. Untuk sesaat, bayang-bayang Bharatayudha seolah menghilang, berganti dengan pelukan keluarga yang akan selalu dikenang sepanjang kehidupan Pandhawa.

Di tengah takdir yang membawa mereka menuju medan perang, doa seorang ibu menjadi satu-satunya harapan yang tidak pernah kehilangan jalan pulang.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
cerpen Pandawa wayang dewi kunti