Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Hari demi hari berlalu. Waktu yang dinantikan seluruh Bharata akhirnya tiba. Genderang Bharatayudha mulai ditabuh.
Dari Kerajaan Wirata, panji-panji Pandhawa berkibar menuju Padang Kurusetra.
Prabu Matsapati sebagai Raja Wirata sekaligus eyang Pandhawa turut mengantar, bahkan ikut memimpin pasukan menuju medan perang. Di dalam hatinya hanya ada satu doa.
"Ya Hyang Wenang... Semoga mereka yang menanam kezaliman menuai balasan atas segala karma yang telah diperbuat."
Sri Kresna yang berada di sampingnya hanya menganggukkan kepala.
"Karma tidak pernah salah menemukan pemiliknya, Prabu."
Barisan kereta perang terus bergerak meninggalkan Wirata. Puntadewa memimpin di depan, disusul Werkudara, Arjuna, Nakula, Sadewa, Sri Kresna, Setyaki, serta para raja sekutu.
Matahari pagi bersinar terang, namun tidak seorang pun mengetahui bahwa sebelum perang dimulai, takdir telah lebih dahulu menyiapkan luka bagi keluarga Pandhawa.
Baca Juga: Daftar Pemain Timnas Futsal Indonesia untuk TC Spanyol, Garuda Bersiap ke Piala Dunia
Di sebuah hutan yang harus dilalui menuju Kurusetra, seorang pemuda tampan berjalan sendirian. Wajahnya bersih, sorot matanya teduh, namun menyimpan kerinduan yang begitu dalam.
Dialah Bambang Irawan, putra Arjuna dari Dewi Ulupi.
Sejak kecil, ia hanya mengenal nama ayahnya melalui cerita.
Belum pernah sekalipun ia memeluk, bersujud, ataupun mengabdi kepada Arjuna.
Irawan berhenti di bawah sebuah pohon besar.
Ia menatap langit sambil tersenyum.
"Rama... Perang besar akan segera dimulai. Aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya ingin melihat wajahmu. Walau hanya sekali... Biarlah aku bersujud di kakimu sebagai seorang anak."
Angin hutan berembus pelan, seolah ikut membawa kerinduan yang selama bertahun-tahun dipendamnya.
Belum jauh Irawan melangkah, bumi mendadak bergetar. Pepohonan bergoyang hebat.
Dari balik rimbunnya hutan muncul sesosok raksasa bertubuh besar dengan mata merah menyala.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani