Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Burung-burung beterbangan meninggalkan hutan yang berubah menjadi lautan amarah. Tubuh Irawan mulai dipenuhi luka. Darah mengalir membasahi pakaiannya. Kala Srenggi tertawa puas.
"Menyerahlah! Kau tidak akan mampu mengalahkanku!"
Irawan menggeleng.
"Aku tidak bertarung demi kemenangan. Aku bertarung agar ayahku tetap hidup."
Pertarungan mencapai puncaknya. Kala Srenggi melompat sambil mengayunkan gada.
"Matilah, Arjuna!"
Pada saat yang sama, Irawan melepaskan anak panah terakhirnya.
"Terimalah baktiku ini, Rama..."
Baca Juga: Jaga Investor Tetap Bertahan di Ngawi, Pemkab Turun Tangan Cegah PHK
Anak panah Irawan menembus dada Kala Srenggi. Namun, gada raksasa itu juga menghantam tubuh Irawan tanpa ampun.
Keduanya roboh hampir bersamaan.
Hutan yang semula bergemuruh kembali sunyi.
Dua nyawa melayang bersama, membawa harapan yang tak pernah sempat menjadi kenyataan.
Kala Srenggi tersenyum pahit.
"Dendamku... akhirnya selesai."
Di sisi lain, napas Irawan tinggal sehela. Matanya menatap langit.
"Rama... Maafkan anakmu... Kita... tidak sempat bertemu."
Kepalanya terkulai.
Bambang Irawan gugur sebelum impiannya memeluk sang ayah terwujud.
Baca Juga: Lima Gempa Guncang Pacitan dari Pagi hingga Siang, BPBD Minta Warga Tenang
Tidak lama kemudian, rombongan Pandhawa melintasi hutan itu. Sri Kresna yang menjadi kusir Arjuna tiba-tiba menarik tali kekang hingga kereta berhenti mendadak.
Arjuna terkejut.
"Kakang Prabu... Mengapa kereta dihentikan?"
Sri Kresna memejamkan mata.
"Aku merasakan duka yang sangat dalam."
Beberapa saat kemudian, Sri Kresna membuka matanya.
"Arjuna... Di dalam hutan ini... ada seorang pemuda yang gugur."
Arjuna bertanya heran.
"Siapakah dia?"
Suara Sri Kresna terdengar berat.
"Pemuda itu... adalah Bambang Irawan. Putramu."
Seketika wajah Arjuna pucat pasi. Busur Gandewa terlepas dari genggaman Arjuna. Tubuhnya gemetar. "Tidak... Itu tidak mungkin. Aku... Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani