Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Tanpa berpikir panjang, Arjuna berlari memasuki hutan mengikuti arah yang ditunjukkan Sri Kresna.
Sesampainya di tempat itu, Arjuna melihat tubuh seorang pemuda tampan terbujur kaku bersimbah darah. Entah mengapa, hatinya langsung yakin bahwa itulah darah dagingnya sendiri.
Arjuna segera memeluk jasad Irawan.
"Anakku... Bangunlah... Rama datang..."
Namun, tubuh itu tetap diam. Yang menjawab hanyalah desir angin hutan.
Sri Kresna berjalan mendekat.
"Arjuna... Irawan tidak pernah sempat bertemu denganmu. Namun, ketika Kala Srenggi hendak membunuhmu... ia mengaku dirinya adalah Arjuna. Ia memilih mati agar ayah yang belum pernah ditemuinya tetap hidup," ungkapnya.
Tangis Arjuna pecah sejadi-jadinya. Arjuna mencium kening putranya untuk terakhir kali.
Baca Juga: Pengantin di Ponorogo Bawa Domba Merino Jadi Seserahan, Bikin Tamu Undangan Heboh
"Maafkan Rama, anakku. Seumur hidup... Rama belum pernah memelukmu. Dan ketika takdir akhirnya mempertemukan kita... yang Rama peluk hanyalah tubuhmu yang telah tak bernyawa," ujarnya.
Sri Kresna memegang bahu Arjuna dengan lembut.
"Beginilah jalan takdir, Arjuna. Bharatayudha bahkan belum dimulai... tetapi pengorbanan pertama telah lahir dari darah anakmu sendiri."
Di bawah langit Kurusetra yang mulai memerah, seorang ayah menangis memeluk putra yang baru dikenalnya ketika maut telah lebih dahulu memisahkan mereka.
Dengan hati yang masih diselimuti duka, Arjuna perlahan bangkit dari sisi jasad Bambang Irawan. Air matanya belum benar-benar berhenti mengalir.
Ia memandang wajah putranya untuk terakhir kali, lalu menarik napas panjang.
"Anakku... Semoga pengorbananmu menjadi pengorbanan terakhir. Semoga Bharatayudha tidak lagi meminta air mata seorang ayah."
Sri Kresna hanya menepuk lembut bahu Arjuna, mengajaknya kembali menuju kereta.
Kereta Garuda kembali melaju menuju Padang Kurusetra. Sepanjang perjalanan, tak seorang pun mengucapkan sepatah kata.
Puntadewa, Werkudara, Nakula, Sadewa, dan Prabu Matsapati dapat merasakan kesedihan yang menyelimuti Arjuna.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani