Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Namun, mereka memahami bahwa seorang kesatria tidak diberi waktu terlalu lama untuk tenggelam dalam duka ketika kewajiban telah memanggil.
Sri Kresna berkata pelan,
"Arjuna... Kadang takdir meminta kita menangis terlebih dahulu... agar kita mengerti betapa berharganya sebuah kemenangan."
Tidak lama kemudian, hamparan Padang Kurusetra mulai tampak di kejauhan. Ribuan panji berkibar, suara terompet perang menggema memenuhi angkasa.
Dari kejauhan, tampak barisan Kurawa telah tersusun rapi, bagaikan lautan manusia yang tidak bertepi.
Puntadewa memandang ke arah barisan lawan.
"Kakang Prabu... Siapakah yang memimpin bala tentara Astina hari ini?"
Sri Kresna menjawab dengan wajah tenang.
Baca Juga: Lansia di Kabupaten Madiun Tembus 142 Ribu Jiwa, Lampaui Rata-Rata Jatim
"Hari ini... Senopati Kurawa adalah Panembahan Resi Bisma."
Mendengar nama itu, seluruh Pandhawa terdiam.
Werkudara mengepalkan tangan, sedangkan Arjuna menundukkan kepala. Bagi mereka, Bisma bukan sekadar panglima perang, melainkan eyang yang sejak kecil memberikan kasih sayang dan tuntunan.
Arjuna berkata lirih,
"Haruskah cucu mengangkat senjata kepada eyangnya sendiri?"
Sri Kresna memandang lurus ke medan perang.
"Yang akan kalian hadapi bukan kebencian kepada keluarga. Melainkan kewajiban untuk menegakkan dharma."
Di bawah langit Kurusetra yang mulai dipenuhi debu pasukan, Pandhawa akhirnya menghentikan kereta mereka.
Di kejauhan, Panembahan Resi Bisma berdiri gagah sebagai Senopati pertama Kurawa, memimpin bala tentara Astina dengan wibawa yang tak tertandingi.
Semua memahami bahwa peperangan yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Musuh pertama Pandhawa bukanlah kesatria biasa, melainkan eyang yang mereka hormati sejak kecil.
Dan sejak saat itu, Bharatayudha benar-benar membuka lembaran pertamanya. Sebuah peperangan yang bukan hanya menguji kekuatan senjata, tetapi juga keteguhan hati dalam menghadapi orang-orang yang mereka cintai.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani