Cerpen Wayang Srikandi dan Panahnya Bagian 1: Lawan Bisma di Medan Baratayudha

Ki Damar • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 17:57 WIB
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang populer. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang populer. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

MEDAN Kurusetra masih dipenuhi suara gamelan perang, ringkikan kuda, dan denting senjata. Pada hari itu juga, setelah Senopati Seto gugur di tangan Resi Bisma, Pandawa kembali menghadapi kenyataan pahit.

Belum ada seorang pun dari pihak Pandawa yang mampu menundukkan Bisma.

Di tengah keadaan itu, Srikandi menghadap Kresna dan Arjuna. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan keteguhan yang berbeda dari biasanya.

“Kakang Prabu, kula nyuwun pangestu. Kula badhe maju dados senopati, melawan Resi Bisma,” kata Srikandi.

Arjuna segera menyela.

“Tidak, Srikandi. Aku tidak merestui.”

Srikandi menoleh kepadanya. “Mengapa, Pangeran?”

“Bagaimana mungkin seorang perempuan menjadi senopati? Apalagi lawanmu adalah Eyang Resi Bisma. Eyang Seto yang sakti saja telah gugur di tangannya. Aku tidak ingin engkau mempertaruhkan nyawamu.”

Srikandi tersenyum tipis.

Baca Juga: Prajurit TNI AU asal Magetan Tewas Diduga Tak Wajar, Ayah Tuntut Atensi Presiden

“Pangeran, apakah keberanian hanya menjadi milik seorang lelaki?”

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin melindungimu.”

“Lantas, siapa yang akan melindungi kebenaran jika semua orang hanya sibuk melindungi orang yang dicintainya?”

Arjuna terdiam.

Kresna yang sejak tadi mengamati Srikandi akhirnya angkat bicara. “Arjuna, dengarkanlah. Srikandi yang berdiri di hadapan kita bukan lagi Srikandi yang engkau kenal.”

“Apa maksud Kakang Prabu?”

“Lihat sorot matanya. Ada keteguhan yang datang dari perjalanan panjang. Aku mengetahui siapa yang berada di balik tekad itu. Ada kekuatan Dewi Amba yang telah menyatu dengan dirinya.”

Arjuna menggeleng pelan.

“Tetapi tetap saja dia istriku. Bagaimana mungkin aku membiarkannya maju menghadapi Bisma?”

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
srikandi cerpen Pandawa Baratayudha wayang