Cerpen Wayang Srikandi dan Panahnya Bagian 2: Pertemuan dengan Resi Bisma

Ki Damar • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 19:07 WIB
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang populer. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang populer. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

“ENGKAU tidak sedang membiarkannya mati. Engkau sedang menghormati tekad seorang ksatria yang telah menemukan dharmanya,” kata Kresna.

“Namun kalau ia gagal?” tanya Arjuna.

“Kalau engkau terus menghalanginya, engkau justru akan membuatnya kalah sebelum memasuki medan perang.”

Srikandi menatap Arjuna dengan tenang.

“Pangeran, aku tidak ingin dilindungi. Aku hanya ingin direstui.”

Arjuna menarik napas panjang. Ia masih berat menerima kenyataan itu, tetapi keteguhan Srikandi membuatnya tak mampu lagi menghalangi.

“Baiklah. Pangeran tidak akan menghalangimu. Maju dan buktikan bahwa tekadmu bukan sekadar keberanian tanpa arah.”

Kresna tersenyum.

“Begitulah seharusnya seorang ksatria. Berani memilih jalan, kemudian berani mempertanggungjawabkannya.”

Baca Juga: Jadwal Moto3 Misano 2026 Hari Ini: Veda Ega Pratama Jalani FP 1 dan Practice

Tidak lama kemudian, Srikandi maju ke medan perang. Ia datang menghadapi Resi Bisma yang berdiri di hadapan pasukan Kurawa.

Bisma melihat sosok yang datang kepadanya. Ia sempat tersenyum getir.

“Cucuku Srikandi... engkau yang datang menghadap Eyang?”

“Inggih, Eyang. Kula ingkang badhe ngadhepi Eyang,” jawab Srikandi.

Bisma memandang Srikandi dari kejauhan.

“Seto, satria yang begitu terkenal kesaktiannya, telah gugur. Kini Pandawa mengirim seorang perempuan untuk menghadapi Eyang. Apakah mereka hendak meremehkan Eyang?”

“Bukan meremehkan, Eyang. Mungkin mereka hanya telah menemukan jalan yang selama ini belum pernah Eyang hadapi.”

Bisma terdiam.

Tatapan Srikandi membuat hatinya bergetar. Ada sesuatu yang begitu dikenalnya dalam sorot mata cucunya itu.

“Cucuku... sekarang Eyang mengerti. Engkau tidak datang hanya sebagai Srikandi.”

Srikandi menundukkan kepala.

“Eyang sudah mengetahui?”

“Eyang mengenal mata itu. Mata Amba.”

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
bisma srikandi cerpen arjuna wayang