Cerpen Wayang Srikandi dan Panahnya Bagian 3: Cinta dan Sumpah untuk Astina

Ki Damar • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 19:54 WIB
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang populer. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang populer. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

SANG Srikandi menggenggam busurnya dengan erat.

“Dewi Amba tidak datang membawa dendam, Eyang. Ia datang membawa sebuah urusan yang belum selesai.”

Bisma tersenyum.

Namun, Srikandi kemudian bertanya dengan suara yang lebih tegas.

“Tapi ada satu hal yang ingin kula tanyakan, Eyang. Mengapa Eyang masih berdiri membela Kurawa, padahal Eyang mengetahui bahwa banyak perbuatan mereka tidak benar?”

Bisma terdiam cukup lama.

“Cucuku, Eyang tidak perlu melihat siapa yang benar dan siapa yang salah.”

“Bagaimana mungkin, Eyang? Perang ini terjadi karena kesalahan yang dibiarkan. Jika orang yang mengetahui kebenaran justru diam, lalu siapa yang akan membela dharma?”

Bisma menghela napas.

Baca Juga: Jangan Anggap Remeh, Ini Dampak Mengerikan Abu Vulkanik bagi Paru-Paru Menurut Ahli

“Eyang tahu apa yang terjadi. Eyang tahu bagaimana Duryudana memperlakukan Pandawa. Eyang tahu banyak hal yang dilakukan Kurawa tidak patut dibenarkan.”

“Lantas mengapa Eyang tetap mengangkat senjata untuk mereka?”

Bisma menatap Astina yang berada di kejauhan.

“Karena Astina.”

Suaranya bergetar.

“Eyang telah mengabdikan seluruh hidup untuk negeri itu. Eyang telah bersumpah menjaga takhta Astina. Kurawa adalah cucu-cucu Eyang. Mereka salah, Eyang mengetahuinya. Tetapi kasih seorang kakek tidak selalu mampu memandang cucunya dengan ukuran benar dan salah.”

Srikandi menatap Bisma.

“Jadi Eyang berperang bukan karena mereka benar?”

“Bukan.”

“Lalu karena apa?”

Bisma tersenyum sedih.

“Karena cinta. Karena sumpah. Karena Astina. Kadang manusia mengetahui kebenaran, tetapi hatinya terikat pada sesuatu yang telah dijaganya seumur hidup.”

Srikandi menahan air matanya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
kurawa srikandi cerpen Pandawa wayang