Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
“KALAU begitu, mungkin hari ini Eyang harus memilih. Tetap menjadi penjaga Astina, atau menjadi manusia yang menyerahkan diri kepada takdir.”
Bisma mengangguk perlahan.
“Cucuku... engkau sudah berubah.”
“Bukan berubah, Eyang. Mungkin baru sekarang kula mengerti untuk apa saya dilahirkan.”
Bisma kembali menatap mata Srikandi. Kini ia benar-benar memahami semuanya.
“Amba... akhirnya engkau datang.”
Srikandi menundukkan kepala.
“Nyuwun pangestu, Eyang.”
Bisma meletakkan busurnya.
Baca Juga: Gebrak Pasar Indonesia 16 September, Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Monster 10.000 mAh
“Eyang memberikan restu. Jangan ragu. Jangan merasa bersalah. Panahmu bukan sekadar panah kematian. Panahmu adalah akhir dari perjalanan yang telah lama menunggu.”
Srikandi mengangkat busurnya.
“Cucuku, setelah panahmu menancap, jangan tangisi Eyang. Setiap manusia memiliki waktunya sendiri untuk kembali.”
“Eyang tetap kakekku. Apa pun yang terjadi hari ini, rasa hormatku tidak akan pernah hilang.”
Bisma tersenyum.
“Dan engkau tetap cucuku, istri Arjuna.”
Seketika Srikandi melepaskan anak panahnya.
Panah itu melesat menembus udara dan mengenai tubuh Bisma.
Bisma pun roboh.
Arjuna yang berada tidak jauh dari sana hanya memandang Srikandi. Ia tidak melepaskan satu pun anak panah. Ia menyaksikan sendiri bagaimana keteguhan hati istrinya mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya ia ragukan.
Bisma telah gugur.
Bukan semata-mata karena kekuatan senjata Srikandi, melainkan karena Bisma sendiri telah menerima takdir yang datang melalui tangan cucunya.
Sejak tumbangnya Bisma pada hari itu, pertahanan Kurawa mulai retak. Sebab, telah gugur satu-satunya tiang yang selama ini menjadi kekuatan utama Astina.
Panah Srikandi akhirnya bukan hanya menjatuhkan Bisma. Panah itu menjadi tanda bahwa roda Baratayudha mulai bergerak menuju kehancuran Kurawa.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani