Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
SANG Kresna memandang Arjuna yang masih terpaku menyaksikan kepergian Bisma.
“Arjuna, jangan kau pandang peristiwa ini hanya sebagai pertarungan antara Srikandi dan Bisma. Di balik semua ini ada pelajaran besar. Srikandi telah menunjukkan keteguhan hatinya. Meskipun harus berhadapan dengan kakekmu sendiri, ia tetap teguh menjalankan kewajibannya dan tidak berpaling dari jalan dharma.”
Arjuna menundukkan kepala.
“Tetapi, Kakang Kresna, bagaimana mungkin aku tidak bersedih? Bisma adalah sesepuh dan panutan Pandawa. Aku tidak ingin berperang melawan seseorang yang selama ini kuanggap seperti orang tuaku sendiri.”
“Memang berat, Arjuna. Namun ingatlah, Bisma bukanlah orang yang kalah oleh Srikandi. Ia telah memahami apa yang akan terjadi. Dengan penuh keikhlasan, Bisma menyerahkan dirinya kepada Srikandi karena ia sadar bahwa telah tiba waktunya menghadapi takdir.”
Kresna berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Ini bukan semata-mata tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi tentang mereka yang tetap memegang teguh dharma dan tanggung jawab.”
Arjuna menyimak setiap perkataan Kresna.
Baca Juga: Voli Putri Asian Games 2026: Korea Incar Emas, Lee Da-hyun Cs Bisa Jumpa Jepang dan Indonesia
“Maka, Arjuna, jangan biarkan rasa sedih membuat hatimu gelap. Belajarlah dari keteguhan Srikandi dan keikhlasan Bisma. Ada saatnya manusia harus berdiri teguh dalam menjalankan kewajiban, dan ada saatnya harus mampu menerima ketika waktunya telah tiba.”
Kresna menatap Arjuna dengan penuh ketenangan.
“Jalankanlah tugasmu dengan hati yang bersih, sementara hasil akhirnya serahkan kepada Sang Maha Kuasa.”
Srikandi kemudian mendekat dan merangkul Arjuna dengan penuh rasa. Hatinya berbaur antara sedih dan bangga.
Ada rasa sedih karena Srikandi harus menghadapi dan mengalahkan eyangnya sendiri, Resi Bisma. Namun, di dalam kesedihan itu tumbuh pula rasa bangga karena ia telah mampu menjalankan tugas berat sebagai senopati dengan penuh tanggung jawab.
Srikandi kemudian menghaturkan sembah di kaki Arjuna.
Arjuna mengelus pundaknya, seolah hendak menguatkan hati Srikandi yang masih diliputi kesedihan. Air mata yang menetes menjadi tanda bahwa tugas itu telah usai, meskipun harus dibayar dengan rasa nelangsa.
Srikandi telah menuntaskan dharmanya. Panah Amba telah menemukan tujuannya, sementara hati Srikandi harus menerima kenyataan bahwa kemenangan di medan Baratayudha tidak selalu datang tanpa kehilangan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani