Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Dari kejauhan, pasukan Kurawa mulai membentuk barisan yang tidak biasa. Barisan itu bergerak melingkar dan berlapis-lapis, menyerupai pusaran raksasa yang terus berputar.
Formasi tersebut perlahan mengepung wilayah tempat pasukan Pandawa bertahan.
Sadewa tertegun menyaksikan pemandangan itu.
“Kakang, gelar perang apakah itu?” tanyanya.
Puntadewa memandang ke arah barisan musuh dengan wajah serius.
“Cakrabyuha...” jawabnya singkat.
Nakula dan Sadewa terdiam. Mereka mengetahui bahwa hanya sedikit orang yang memahami rahasia gelar perang tersebut. Salah satu orang yang paling mengetahui cara menghadapi Cakrabyuha adalah Arjuna.
Masalahnya, Arjuna tidak berada di sana.
Di tempat lain, Sri Kresna menerima laporan tentang keadaan Puntadewa dan kedua adiknya.
“Kakang Prabu, Cakrabyuha telah terbentuk. Sinuwun Puntadewa, Nakula, dan Sadewa mulai terdesak,” lapor Setyaki.
Kresna menatap medan perang. Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya tampak gelisah.
“Arjuna?” tanyanya.
“Belum dapat kembali. Arjuna masih bertempur menghadapi Boga Denta,” jawab Setyaki.
Baca Juga: Cerpen Wayang Abimanyu Bagian 1: Siasat Cakrabyuha Resi Durna
“Bima?”
“Masih bertempur di wilayah selatan. Gardapati sengaja memisahkannya dari medan utama.”
Kresna menggenggam tali kekang keretanya. Ia memahami bahwa Resi Durna sengaja menyusun siasat untuk memisahkan para kesatria utama Pandawa sebelum melancarkan serangan dengan Cakrabyuha.
“Setyaki, carilah prajurit yang mampu masuk ke dalam Cakrabyuha,” perintah Kresna.
Setyaki terdiam sejenak.
“Siapa, Kakang Prabu?”
Kresna tidak segera menjawab. Pandangannya tetap tertuju pada medan perang yang semakin kacau.
“Aku sendiri tidak tahu...” jawabnya lirih.
Setyaki semakin panik. Waktu terus berjalan, sementara pasukan Pandawa semakin terdesak di dalam kepungan Kurawa.
“Kalau begitu, siapa yang harus kita tunjuk?” tanyanya.
Tiba-tiba, terdengar suara dari belakang.
“Uwak Prabu...”
Kresna menoleh.
Seorang pemuda berdiri di hadapannya. Tubuhnya masih muda, dan wajahnya belum sepenuhnya menunjukkan kerasnya kehidupan seorang kesatria yang ditempa peperangan.
Namun, di balik wajah mudanya, tersimpan sorot mata yang memancarkan keberanian luar biasa.
Pemuda itu adalah Abimanyu, putra Arjuna yang kelak akan menghadapi ujian besar di medan Baratayudha.
Kehadirannya seolah membawa secercah harapan bagi Pandawa yang tengah terdesak. Namun, di hadapan mereka terbentang Cakrabyuha, gelar perang berlapis yang disusun Resi Durna untuk menjebak siapa pun yang berani memasukinya.
Kresna menatap Abimanyu dengan saksama. Ia tahu, keberanian saja tidak cukup untuk menghadapi perang semacam itu. Diperlukan kecerdikan, ketenangan, dan kemampuan membaca setiap gerakan lawan.
Sementara itu, Abimanyu berdiri tegak di hadapan pamannya. Ia belum mengetahui seluruh bahaya yang menantinya, tetapi tekadnya sebagai seorang kesatria mulai membawanya mendekati takdir besar di medan Kurukshetra. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta