Lakon Wayang Bale Gala-Gala Bagian 1: Api di Waranawata

Ki Damar • Dipublikasikan Rabu, 4 November 2026 | 18:51 WIB
Ilustrasi kejahatan tokoh Sengkuni dalam cerita lakon wayang. (KI DAMAR)
Ilustrasi kejahatan tokoh Sengkuni dalam cerita lakon wayang. (KI DAMAR)

Cerpen Lakon Wayang Oleh: Ki Damar

Senja itu, Astina tampak berbeda dari biasanya. Di bangsal agung, aroma dupa bercampur dengan hawa ketegangan.

Puntadewa akan segera dinobatkan menjadi raja. Namun, di balik senyum para Kurawa, ada racun yang tengah diracik perlahan. Sengkuni berdiri di sudut ruangan.

Matanya licik, senyumnya tajam bak pisau yang disembunyikan di balik kain sutra.

"Kanjeng Prabu Dretarastra," ujar Sengkuni dengan suara lembut yang dibuat-buat, "sebelum Puntadewa jumeneng raja, alangkah baiknya jika Pandawa dan Kurawa bertirakat terlebih dahulu. Biar hati mereka bersih, biar wahyu turun. Hamba mengusulkan agar dibangun sebuah bale yang indah di Hutan Waranawata. Namanya Bale Gala-Gala. Di sana sejuk dan tenang, cocok untuk prihatin."

Dretarastra, yang buta matanya sekaligus lebih buta hatinya, mengangguk setuju.

"Usul yang bagus, Paman Sengkuni. Bangunlah bale itu. Biar anak-anakku semua bisa bertirakat bersama."

Pandawa mengangguk patuh. Namun, Kunthi, sang ibu, hanya terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, setiap kali Sengkuni tersenyum manis, pasti ada maut yang mengintai di baliknya.

Baca Juga: Mau Dapat BLT Kesra Rp 900 Ribu? Begini Cara Pengajuan lewat Online dan Offline

Sengkuni tersenyum semakin lebar dalam hati.

"Beres," bisiknya kepada Duryudana. "Bale itu akan kubuat dari kayu, damar, dan segala bahan yang mudah terbakar. Purocana yang akan membangunnya. Begitu Pandawa tertidur pulas, kita bakar! Habis sudah Pandawa. Astina akan menjadi milikmu, Duryudana."

Duryudana tertawa kecil. "Akhirnya ... takhta itu akan menjadi milikku."

Berhari-hari Purocana membangun Bale Gala-Gala. Dari luar, bangunan itu tampak megah. Atapnya menjulang tinggi, ukirannya indah, dan halamannya luas. Namun, di balik dinding-dindingnya, Purocana menyelipkan minyak, damar, serta serat-serat kering yang mudah terbakar.

"Ini bukan bale," gumam Purocana seorang diri dengan tangan gemetar. "Ini adalah kuburan yang dihias."

Tibalah hari keberangkatan. Pandawa berangkat dengan hati tulus. Bima memanggul bekal, Arjuna menuntun ibunya, sedangkan Nakula dan Sadewa berjalan sambil mengagumi pemandangan hutan.

"Ibu, hutan ini indah sekali," kata Arjuna.

Kunthi tersenyum getir. "Nak, sesuatu yang indah di mata belum tentu aman di hati. Tetaplah waspada."

Malam pertama di Waranawata dirayakan dengan pesta. Kurawa berpura-pura ramah. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
Lakon wayang kurawa cerpen kebakaran Sengkuni