Sridita kesulitan mencari MinyaKita. Kalaupun ada, harga dari distributor sudah mahal. Kondisi tersebut membuat pembelinya beralih ke minyak curah. Namun, setali tiga uang, ketersediannya juga terbatas. ‘’Masyarakat beralih ke minyak goreng kemasan lainnya yang harganya lebih mahal,’’ ujarnya.
Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi Yusuf Rosyadi menyampaikan bahwa stok MinyaKita menipis. Kondisi itu yang memicu lonjakan harga di atas HET. Di beberapa tempat di jual kisaran Rp 16 ribu dan Rp 17 ribu per liter. ‘’Jumlahnya terbatas karena produksinya memang berkurang. Apa penyebabnya, kami kurang tahu,’’ paparnya.
DPPTK tidak berpangku tangan. Upaya menghubungi Perum Bulog Madiun untuk melakukan operasi pasar murah telah dilakukan. Sayangnya, stok migor di gudang penyimpanan juga sedang kosong. Pun, langlah menyurati sejumlah distributor hingga kini tidak berbalas. ‘’Jika nanti stoknya tersedia, kami segara lakukan operasi pasar murah,’’ tandas Yusuf. (sae/cor) Editor : Hengky Ristanto